Minggu, 26 Februari 2017

Antara Kebutuhan Rumah dan Kebutuhan Kekinian Generasi Milennial

Bicara soal kebutuhan kekinian generasi millennial yang hidup di kota besar seperti Jakarta, maka kita akan bicara soal kebutuhan untuk terkoneksi melalui langganan paket internet, kebutuhan untuk tampil bugar dengan menjadi member pada fitness center, kebutuhan untuk tampil menawan dengan memiliki jadwal ke salon, kebutuhan untuk refreshing dengan berlangganan streaming musik seperti spotify, TV Kabel atau berliburan ke tempat eksotis, kebutuhan untuk bersosialisasi dengan kongkow di Starbucks atau kafe-kafe nge-hits lainnya dan kebutuhan kekinian lainnya. Bagi sebagian generasi millennial, kebutuhan kekinian tersebut  bahkan telah menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk menjaga keseimbangan hidup dari tekanan kehidupan kota besar.

Padahal di era orde baru, generasi millennial yang sempat mencicipi propaganda kurikulum orde baru seperti saya kerap didoktrin bahwa kebutuhan primer itu mencakup tiga hal, yakni sandang, pangan, dan papan. Untuk dua hal yang pertama, yakni sandang dan pangan rasanya sudah dapat dicukupi dengan baik. Tetapi ketika bicara kebutuhan papan alias rumah, maka jangankan mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, generasi millennial yang rata-rata kelas menengah pun rata-rata tergopoh-gopoh dalam rangka mewujudkannya.

Data BPS (per tahun 2015) menunjukkan hanya 51,09% warga Jakarta yang memiliki rumah. Jauh lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang mencapai 82,63%. Tak heran jika isu kepemilikan rumah menjadi isu seksi pada pilgub DKI 2017 mengingat hampir setengah dari warga Jakarta (48,91%) berstatus belum memiliki rumah. Tren di negara maju sendiri menunjukkan hal serupa dimana kepemilikan rumah secara keseluruhan di negara-negara maju rata-rata di bawah 70%, bahkan di Korea, Jerman, dan Swiss kisarannya sudah di bawah 60%. Khusus di kota-kota besar di negara maju seperti London, Berlin, Tokyo, New York, Seoul dll tingkat kepemilikan rumah bahkan sudah di bawah 50%. Bukan tidak mungkin persentase kepemilikan rumah di Jakarta akan terus menurun seperti di kota-kota besar dunia lainnya bila tidak ada intervensi yang tepat dari pemerintah.
Kembali ke topik kebutuhan generasi millennial, beberapa kali saya menemukan tulisan yang membahas tentang tidak urgent-nya memiliki rumah mengingat harga rumah yang tidak terkendali akibat inflasi harga tanah yang memakan kenaikan penghasilan tahunan yang tidak seberapa. Juga karena anggapan bahwa golongan millennial “anti-kemapanan” yang terkejawantahkan dalam kurangnya loyalitas mereka atas pekerjaan mereka yang membuat mereka sewaktu-waktu dapat meninggalkan pekerjaan mereka. Serta aneka ragam kebutuhan “kekinian” yang tak kadang mengambil porsi yang cukup besar dari penghasilan bulanan. Ketiga hal tersebut kerap disodorkan sebagai alasan mengapa sebaiknya generasi millennial tidak perlu “ngoyo” untuk memiliki rumah sendiri kecuali jika penghasilan mereka sudah mencukupi untuk keluar dari kalangan menengah  menjadi kalangan atas. (Sebagai ilustrasi, jika mengacu pada ADB, range pengeluaran kelas menengah per hari berkisar $2 - $20).

Dalam pandangan subjektif saya, untuk mereka yang belum berkeluarga dan yang sudah menikah tapi belum memiliki anak, maka memiliki rumah bukanlah suatu keharusan. Kebutuhan untuk mengaktualisasi diri maupun kebutuhan kekinian untuk menyeimbangkan hidup layak lebih dikedepankan dibandingkan mengorbankan sebagian porsi penghasilan untuk membayar cicilan rumah. Sayang jika energi besar dan kreativitas yang dimiliki oleh generasi millennial terpasung oleh rutinitas pelunasan cicilan rumah. Saya sendiri beberapa kali mendengar keluhan berbagai orang generasi di atas saya (generasi X) yang sudah tidak memiliki gairah lagi di tempat kerjanya, namun memilih tetap bertahan pada zona nyaman mereka akibat adanya tuntutan cicilan rumah yang belum terlunasi.

Sebaliknya bagi mereka yang sudah menikah dan sudah memiliki anak atau setidaknya berencana memiliki anak, saya rasa memiliki rumah tetap termasuk dalam prioritas utama yang harus diperjuangkan. Hal ini demi memberikan kepastian hidup khususnya bagi sang anak. Tak bisa dibayangkan kondisi psikologis anak yang harus berpindah-pindah untuk mengikuti orang tuanya bila suatu saat pemilik properti tempat kita tinggal tidak bersedia memperpanjang masa kontrak kita sehingga kita harus mencari tempat tinggal baru.


Pada akhirnya sebagai sesama generasi millennial, saya ucapkan selamat berjuang untuk teman-teman yang tengah bergerilya mencari rumah idaman dan juga kepada teman-teman yang sedang berpusing ria menghadapi tagihan cicilan rumah yang jatuh tiap bulannya. 

Beruntungnya Para Walikota di Wilayah yang Berbatasan dengan Jakarta

Tak terbayang rasa kesal di dalam hati saya ketika saya harus menghabiskan waktu menyetir selama 50 menit untuk jarak yang hanya 3 km di suatu jalan utama di Depok. Sesungguhnya macet di area tersebut sudah saya prediksi dan hanya bisa dihindari dengan menggunakan sepeda motor. Namun dalam kondisi hujan badai, tidak ada pilihan yang lebih baik selain menggunakan mobil.

Celakanya, kemacetan yang melanda daerah suburban Jakarta telah tersebar merata pada saat akhir pekan. Sialnya lagi sebagian lokasi tersebut tidak dapat dijangkau dengan transportasi massal seperti KRL Commuter Line ataupun Transjakarta. Sementara angkot dan bis kota yang tersedia gagal memberikan pelayanan yang setara dengan KRL maupun Transjakarta. Tak heran jika warga suburban masih banyak yang menggunakan kendaraan pribadi alih-alih berkontribusi mengurangi kemacetan dengan menggunakan kendaraan umum.

Sayangnya hingga kini Walikota Depok, Bekasi, Tangerang, dan Tangerang Selatan masih belum berhasil membangun sistem transportasi yang memadai bagi warganya ataupun melakukan intervensi lain yang mampu mengurangi kemacetan. Alasan ketiadaan anggaran kerap diapungkan oleh para walikota tersebut. Lucunya walaupun tetangga mereka, yakni DKI Jakarta berlimpah anggaran yang kerap tak terserap sempurna, namun inisiatif mereka untuk mengajak Pemprov DKI bekerjasama dalam menyelesaikan permasalahan transportasi di wilayahnya sangat rendah. Hal ini ditambah lagi dengan pengeluaran izin pembangunan pemukiman, pusat perbelanjaan dll yang tidak sesuai dengan RTRW sehingga kerap menimbulkan titik kemacetan baru.

Beruntungnya, kritik yang diterima oleh walikota tersebut tidak sederas yang diterima oleh Gubernur DKI Jakarta. Padahal sedari zaman Sutiyoso hingga Basuki, berbagai upaya telah dilakukan oleh para Gubernur DKI Jakarta untuk memperlancar lalu lintas di wilayahnya. Sebaliknya di wilayah suburban inisiatif-inisiatif dari para walikota untuk mengatasi kemacetan masih jauh dari harapan.

Kurangnya akses informasi terhadap upaya penanganan kemacetan di wilayah suburban membuat warga suburban lebih sering mengomentari apa yang terjadi di Jakarta dikarenakan mereka kurang mengetahui perkembangan di wilayahnya. Hal ini ditambah dengan banyaknya warga suburban yang mengadu nasib ke Jakarta sehingga rasa kepemilikan mereka terhadap Jakarta lebih tinggi dibanding rasa kepemilikan  mereka terhadap daerah asalnya.


Oleh karena itu walau terletak di samping Jakarta, tetapi nasib para walikota suburban ini jauh lebih baik daripada Gubernur DKI Jakarta. Sekeras apapun usaha Gubernur DKI Jakarta untuk mengurai kemacetan, tetap usaha mereka masih mendapat caci maki dari sebagian warganya (dan warga suburban). Sebaliknya di wilayah suburban, tanpa harus bekerja keras sebagaimana Gubernur DKI, kritik kepada mereka sebatas umpatan-umpatan dalam hati dari para warganya yang terjebak kemacetan. Ditambah lagi tiap ada pilkada, pesaing mereka relatif tidak ternama atau memiliki gagasan yang segar. Jadinya makin lengkaplah keberuntungan mereka.

Kamis, 12 Januari 2017

Ketulusan yang Mengubah

Kamu tau berapa panjang jarak dari Depok ke Osaka? Iya sekitar 5.469 km menurut mbah Google!! Dan kamu tau kenapa kamu posting hal ini? Iya karena udah jauh ke sini masih aja gw mengalami mimpi yang sama seperti yang gw alami beberapa kali selama dua minggu terakhir.

Uniknya mimpi kali ini mengisahkan tentang sebuah harian terkemuka di Indonesia (sebut aja Kompas) yang mempublikasikan artikel yang mengapresiasi upaya seseorang (yang gw kenal baik) dalam menolong para pengungsi dari negara lain yang sedang dalam penantian menunggu hasil status pengajuan suaka mereka.

Jika ditarik ke dunia nyata, gw yakin dia tidak akan mempedulikan apakah upaya yang selama ini dia konsisten lakukan akan membuat dia menjadi seseorang termasyur atau tidak. Sebab ia melakukan semua ini penuh dengan ketulusan yang bahkan sukses menggerakkan banyak orang untuk membantu dia.

Pada akhirnya gw harus mengakui bahwa ketulusannya  tersebut juga “sukses” mengubah gw yang sempat menjadi sosok yang “penuh perhitungan” menjadi “lebih peduli” ketika menolong orang lain.



PS: Thanks for restoring myself as a human!!! 

Minggu, 08 Januari 2017

Bismillah


Sungguh ajaib rasanya bila mengingat apa yang paling kamu inginkan ketika kamu melangitkannya di penghujung Ramadhan lalu dikabulkan oleh-Nya, hingga kemudian kamu tiba-tiba perlahan menjauh dari-Nya dan Ia mungkin cemburu hingga Ia pun memutuskan untuk mencabut kembali nikmat tersebut.

Atau bisa jadi….


Ia mencabut nikmat tersebut agar saya dapat memfokuskan diri saya untuk mengejar mimpi-mimpi saya yang belum tercapai. Semangat :D

Selasa, 28 Juli 2015

Update!!!!

Lebih dari 28 bulan sudah blog ini mati suri sejak tulisan terakhir yang berjudul Passion vs Realitas di posting pada 9 Maret 2013 lalu. Beberapa kali saya berusaha memperbaharui isi blog ini dengan deretan tulisan terbaru saya, namun pada akhirnya semua tulisan tersebut hanya tersimpan sebagai draf saja karena saya malas menyelesaikannya.

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan beberapa update mengenai saya (ini blog gue, suka-suka gue dong nulis tentang diri gue hehehe). Saat ini saya sudah berstatus sebagai PNS di sebuah instansi bernama Kemenko Perekonomian. Sejujurnya saya tidak pernah membayangkan bahwa kelak saya akan jadi PNS beberapa tahun lalu mengingat saya beberapa kali mengalami hal yang kurang baik ketika berinteraksi dengan beberapa instansi pemerintahan mulai dari urusan tugas kuliah, mengurus perizinan, hingga menggalang suatu kerjasama. Ditambah lagi berbagai tulisan saya di masa lalu kerap menyudutkan kebijakan pemerintah. Sekarang dengan status PNS yang melekat dalam diri saya dan melihat secara langsung bagaimana pemerintah bekerja berdasarkan pengalaman selama 16 bulan berkarier di sini maka kedua hal tersebut tentunya sudah merubah pola pikir saya. Tentunya saya berharap teman-teman yang secara sengaja atau ga sengaja atau malah apes membaca tulisan ini rela mendoakan supaya saya dapat menjalankan amanah sebagai PNS ini dengan sebaik-baiknya.

Kemudian dalam lingkaran keluarga saya sendiri juga terdapat beberapa perubahan yang signifikan. Pertama keluarga saya bertambah besar dengan hadirnya kakak ipar saya yang menikahi kakak saya pada Januari 2014 lalu. Kemudian pada Desember tahun lalu pula kakak saya berhasil menyelesaikan pendidikan Master-nya di University of Melbourne. Sekarang kakak saya sedang mengandung selama 5 bulan dan saya berharap janin yang dikandungnya dapat lahir dengan sehat dan kelak jadi anak yang berbakti dan membanggakan bagi kedua orang tuanya J
Dari kedua adik saya sendiri, yang pertama adik saya yang bernama Aisyah Suci Kirana baru saja menyelesaikan studinya di S1 Manajemen FEUI. Walau dulu SMAnya ga dapat SMAN 1 Depok seperti saya dan kakak saya, tapi prestasi dan pencapaiannya selama kuliah jauh melebihi saya dan kakak saya hahaha…. Pokoknya salut deh sama adik saya yang satu ini, semoga karier pasca kampusnya dapat lebih cemerlang aamiin. Kemudian adik saya yang paling kecil, yakni Salsana Siti Hatmanti sekarang sudah kelas 2 SMP di SMPN 2 Depok. Adik saya yang ini walau masih SMP tapi tingginya sudah hampir menyamai saya, padahal saya sendiri sebagai cowok sudah termasuk berukuran tinggi di antara rekan-rekan sebaya saya. Harapan saya terhadap adik saya yang paling kecil ini adalah semoga kelak dia nanti kuliahnya masuk jurusan sains mengingat ketiga kakaknya sudah kuliah di jurusan sosial semua (Kakak saya akuntansi, saya hukum, dan adik saya manajemen), padahal kami bertiga SMAnya mengambil IPA tapi “murtad” semua dengan mengambil jurusan sosial ketika kuliah hehehe….

Mengenai papa dan mama saya, Alhamdulillah mereka berada dalam kondisi yang sehat. Walau sempat panik karena Papa pada tahun ini sempat beberapa kali bolak-balik dirawat di rumah sakit, tapi secara overall dengan istirahat yang cukup kondisi Papa pun berangsur-angsur membaik. Mungkin salah satu penyebab Papa yang biasanya ga pernah sakit parah adalah karena ia sedang mengerjakan proyek di Yogyakarta sehingga ia jauh dari keluarga. Sebagai solusinya sekarang alih-alih Papa yang bolak-balik ke Depok tiap beberapa minggu sekali sekarang gantian Mama yang bolak-balik mengunjungi Papa di Yogyakarta sehingga bisnis gypsum Mama di Depok pun dikendalikan secara “remote” dengan bantuan saya dan kakak saya sebagai kepanjangan tangan beliau. Btw salah satu impian mereka adalah kembali ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah umroh dan saya sungguh berharap Allah akan mengabulkan doa mereka.

Tanpa terasa tulisan ini sudah memasuki bagian penghujung dan saya akan berusaha sekuat mungkin agar ini nanti akan hadir tulisan-tulisan lain yang menghiasi blog ini. Demikian dari saya dan terimakasih sudah berkenan mengunjungi blog saya.


Depok, 28 Juli 2015

Sabtu, 09 Maret 2013

Passion vs Realitas





Deretan empat angka di pojok kanan bawah laptop telah menunjukkan pukul 01.36, namun kuatnya pengaruh kopi yang sengaja saya campur dengan porsi gula yang sedikit membuat saya tetap segar. Padahal saya baru saja mengarungi perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek, mulai dari menghadiri pernikahan kak Wulan yang merupakan kepala divisi humas dan publikasi MWA UI UM 2009 di Cililitan hingga sharing dengan Putu -alumni FIM- di Pasar Festival Kuningan. Namun keinginan untuk mewarnai blog dan tumblr saya minimal seminggu sekali dengan buah ketikan terbaru sesuai dengan janji terbaru saya (walau janji ini telah berkali-kali saya khianati) membuat saya tetap bertahan hingga tulisan ini selesai, tak peduli betapa padatnya agenda saya pada hari Minggu ini.
Sesuai dengan tajuk tulisan ini, dua hal tersebut merupakan problem yang belum dapat saya selesaikan hingga saat ini. Meski saya tahu perihal serupa juga menghinggapi banyak teman, senior, maupun junior saya, tetapi pada umumnya mereka telah memutuskan yang terbaik bagi mereka. Dari kedua opsi tersebut, sebagian besar dari mereka menyerah dan tunduk pada realitas. Tetapi sesungguhnya itu bukan hal yang salah. Bagi yang telah terjun di tengah kejamnya dunia pasca kampus pasti memahami hal ini. Berbeda dengan teman-teman mahasiswa yang meski sebagian (atau mayoritas?) diantaranya telah memahami area abu-abu, namun pada umumnya masih memandang dunia dari  kacamata hitam dan putih. Konsekuensi bagi mereka yang memilih tunduk pada realitas adalah mereka terpenjara pada rutinitas yang mereka sebenarnya tidak sukai meski hal tersebut membuat kebutuhan primer mereka tercukupi bahkan berlebih. Sementara itu saya bersama kaum minoritas memilih untuk berkarier sesuai dengan passion yang kita miliki. Meski kita merasa merdeka, namun kemerdekaan tersebut selalu diiringi dengan pertanyaan sampai mana kita mampu bertahan. Sebab apa yang kita dapat lebih banyak berbentuk intangible daripada yang tangible. Alhasil kemerdekaan itu kerap berasa semu.
Lalu apakah antara passion dan realitas bisa berjalan seiring? Jawabannya ya!!! Tetapi untuk mewujudkannya dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Oleh karena itu bagi mereka yang mampu mendamaikan kedua hal ini maka dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang sembarangan, bahkan tidak sedikit yang menjadi orang besar mengingat berdamainya kedua hal ini akan memuluskan jalan perealisasian mimpi besar yang kita idamkan.  Kemudian bagaimana caranya? Dari hasil sharing saya dengan sahabat-sahabat saya, juga dengan mereka yang telah sukses dan menjadi “tokoh” ada satu konklusi yang berhasil saya dapatkan. Hanya dengan melakukan sesuatu yang sesuai dengan passion yang mampu kita membawa ke titik yang kita impikan bahkan mungkin melebihi dari apa yang kita cita-citakan. Namun dibutuhkan daya tahan yang kuat untuk mencapai titik tersebut, oleh karena itulah unsur realitas dibutuhkan. Karena ketiadaan unsur realitas dapat membuat kita lupa untuk menjejak bumi di kala bahan bakar yang kita butuhkan untuk terus mengangkasa mulai menipis.
Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk melalui jalur realitas terlebih dahulu? Apakah mereka bisa tetap mewujudkan mimpi mereka?  Jawabannya tentu saja. Bahkan dalam opini pribadi saya, inilah jalur yang paling aman dilalui. Sebab dengan bahan bakar yang mencukupi maka kita memiliki modal yang cukup untuk mengarungi ke suatu angkasa yang masih asing bagi kita. Namun perlu diingat, bahwa bisa  jadi kita tak akan pernah mengangkasa karena kita sudah terjebak dalam zona nyaman yang melenakan. Saking nyamannya kita berada dalam zona tersebut, kita abaikan passion kita karena kita terlalu takut untuk jatuh ketika kita mengangkasa. Akibatnya mimpi besar kita tak pernah tergapai oleh karena kita terus terjebak dalam zona nyaman. Lalu apakah salah jika kita terus terjebak dalam zona nyaman? Jawabannya adalah tidak jika anda tanyakan pada saya. Sebab tidak mudah hidup dalam zona yang labil, oleh karena itu dapat dipahami jika mayoritas manusia di muka bumi ini cenderung mencari zona nyaman.
Sekarang bagaimana dengan saya? Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya bahwa saya belum selesai dalam hal ini. Banyak pertimbangan beradu di dalam otak saya. Saya tak tahu butuh berapa lama bagi saya untuk menyelesaikan problem ini. Satu hal yang jelas saya tidak ingin mimpi besar saya padam. Apapun jalur yang saya pilih untuk langkah awal saya, pada akhirnya saya harus bisa mendamaikan passion dan realitas. Ya, semoga.........

Depok,
Pukul 03.21 WIB

Minggu, 19 Agustus 2012

Dua Mimpi Danar



“Terpenjara dalam dekapan mimpi itu berbahaya, tidak ada jalan yang lebih baik selain bangun di kala mimpi itu menemui jalan buntu”




Malam mungkin semakin larut ketika huruf pertama dari artikel ini diketik. Namun keinginan untuk berbagi begitu membuncah dalam diri saya ditambah lagi tidak ada obligasi bagi saya untuk ke kantor keesokan harinya karena memang sedang dalam suasana libur lebaran. Oleh karena itu mengapa kesempatan untuk menetaskan apa yang ada di dalam benak saya tidak saya manfaatkan?

Melihat catatan postingan terakhir di blog ternyata sudah hampir 6 bulan saya tidak memperbarui isi blog ini. Padahal banyak sekali hal yang menarik yang saya alami selama 6 bulan ini. Jika 6 bulan lalu saya baru saja melalui ritual wisuda, maka saat ini saya sedang berada dalam gegap gempita dunia kerja. Pekerjaan saya saat ini tidak jauh dari passion saya, yakni dunia sosial dimana saya beruntung mendapatkan kesempatan menempa diri saya di Rumah Perubahan yang didirikan dan dipimpin langsung oleh Prof Rhenald Kasali. Namun sekali lagi berbagai cerita menarik mengenai pengalaman saya di Rumah Perubahan tampaknya akan saya ceritakan pada postingan lain (moga-moga tidak malas nulis, I’m promised!!).

Hal yang ingin saya angkat di sini adalah tentang mimpi saya. Ya mimpi!! Saya bukanlah orang yang mudah fokus terhadap suatu hal sehingga menyulitkan saya untuk menentukan gol utama saya. Jika dikatakan bahwa mimpi utama saya adalah ingin menjadi Walikota Depok seperti yang pernah diutarakan sebelumnya, maka itu tidak salah dan tidak sepenuhnya benar mengacu dengan situasi terkini. Rahasia dunia yang pelan-pelan terungkap satu persatu oleh saya membuat saya mengalami  keraguan untuk tetap setia pada mimpi tersebut. Sekarang walaupun masih samar-samar, namun hati saya mengatakan bahwa saya ingin menjadi seorang pemimpin (apapun ragam bentuknya) di daerah yang penuh keterbelakangan dan ketertinggalan. Sakit rasanya hati ini melihat kesenjangan yang terjadi di luar sana. Di tambah lagi di daerah-daerah yang feodalismenya masih kuat sementaranya rakyatnya masih banyak yang belum tercerdaskan, maka yang terjadi adalah penghisapan yang dilakukan oleh segelintir kelompok yang jahat. Saya berharap suatu saat nanti saya dapat mewujudkannya cepat atau lambat.

Sayangnya mimpi tersebut memiliki penghalang utama yang berasal dari mimpi saya yang lain, yakni KELILING DUNIA!!! Bahkan beberapa minggu yang lalu ketika melihat Singapore Airlines promo tiket Jakarta - London PP dengan tarif sebesar 1288 $ saya sempat terdorong menghabiskan sebagian uang tabungan saya yang jumlahnya pun tidak mencapai dua kali lipat dari harga tiket tersebut untuk mewujudkan cita-cita menginjak tanah Eropa. Tapi kali ini saya kalah dan memutuskan untuk menahan diri. Terkait alasan mengapa mimpi ini dapat menghalangi mimpi besar saya untuk menjadi pemimpin di suatu daerah dikarenakan cara untuk mewujudkan keliling dunia hanya ada tiga, yakni pertama jadi orang kaya, kedua jadi diplomat, dan terakhir modal nekat.  Satu-satunya jalan untuk bisa meraih kedua mimpi ini adalah dengan menjadi orang kaya (dengan cara halal tentunya hehe). 

Penghalang lainnya dari kedua mimpi di atas adalah jika saya tak menemukan istri yang tepat (kok nyambungnya jadi istri??). Terkait mimpi pertama jelas, bagaimanapun juga tidak ada pemimpin yang disukai semua orang (termasuk Nabi Muhammad sekalipun) apalagi jika ia menjunjung kebenaran. Dibutuhkan wanita yang bermental kuat dan mampu menjadi pengayom untuk mendampingi suami seperti ini. Kemudian terkait mimpi yang kedua mungkin tidak masalah jika saya keliling dunia dengan bermodalkan kekayaan saya atau bila saya berprofesi sebagai diplomat. Sebaliknya jika bermodalkan nekat jelas saya akan sangat menzalimi istri saya nanti. Pada akhirnya saya yang dahulu ingin sekali menikah muda menjadi tidak lagi terlalu berambisi untuk itu. Saya sekarang cenderung  tidak terlalu peduli jikalau nanti saya akan menggenapi separuh agama saya di usia yang agak telat (tapi tentunya semoga tidak ^^).  

Seperti yang saya sebutkan dalam quotes di awal artikel ini, terpenjara dalam mimpi itu berbahaya dan saya menyadarinya. Namun selama labirin mimpi itu masih menunjukkan seberkas jalan, maka saya akan terus mengerahkan daya, meningkatkan kapasitas diri serta terus berikhtiar agar mampu mewujudkan semua itu. Selebihnya biarlah Allah yang menentukan karena tak mungkin Ia menelantarkan hambanya begitu saja.