Selasa, 28 Juli 2015

Update!!!!

Lebih dari 28 bulan sudah blog ini mati suri sejak tulisan terakhir yang berjudul Passion vs Realitas di posting pada 9 Maret 2013 lalu. Beberapa kali saya berusaha memperbaharui isi blog ini dengan deretan tulisan terbaru saya, namun pada akhirnya semua tulisan tersebut hanya tersimpan sebagai draf saja karena saya malas menyelesaikannya.

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan beberapa update mengenai saya (ini blog gue, suka-suka gue dong nulis tentang diri gue hehehe). Saat ini saya sudah berstatus sebagai PNS di sebuah instansi bernama Kemenko Perekonomian. Sejujurnya saya tidak pernah membayangkan bahwa kelak saya akan jadi PNS beberapa tahun lalu mengingat saya beberapa kali mengalami hal yang kurang baik ketika berinteraksi dengan beberapa instansi pemerintahan mulai dari urusan tugas kuliah, mengurus perizinan, hingga menggalang suatu kerjasama. Ditambah lagi berbagai tulisan saya di masa lalu kerap menyudutkan kebijakan pemerintah. Sekarang dengan status PNS yang melekat dalam diri saya dan melihat secara langsung bagaimana pemerintah bekerja berdasarkan pengalaman selama 16 bulan berkarier di sini maka kedua hal tersebut tentunya sudah merubah pola pikir saya. Tentunya saya berharap teman-teman yang secara sengaja atau ga sengaja atau malah apes membaca tulisan ini rela mendoakan supaya saya dapat menjalankan amanah sebagai PNS ini dengan sebaik-baiknya.

Kemudian dalam lingkaran keluarga saya sendiri juga terdapat beberapa perubahan yang signifikan. Pertama keluarga saya bertambah besar dengan hadirnya kakak ipar saya yang menikahi kakak saya pada Januari 2014 lalu. Kemudian pada Desember tahun lalu pula kakak saya berhasil menyelesaikan pendidikan Master-nya di University of Melbourne. Sekarang kakak saya sedang mengandung selama 5 bulan dan saya berharap janin yang dikandungnya dapat lahir dengan sehat dan kelak jadi anak yang berbakti dan membanggakan bagi kedua orang tuanya J
Dari kedua adik saya sendiri, yang pertama adik saya yang bernama Aisyah Suci Kirana baru saja menyelesaikan studinya di S1 Manajemen FEUI. Walau dulu SMAnya ga dapat SMAN 1 Depok seperti saya dan kakak saya, tapi prestasi dan pencapaiannya selama kuliah jauh melebihi saya dan kakak saya hahaha…. Pokoknya salut deh sama adik saya yang satu ini, semoga karier pasca kampusnya dapat lebih cemerlang aamiin. Kemudian adik saya yang paling kecil, yakni Salsana Siti Hatmanti sekarang sudah kelas 2 SMP di SMPN 2 Depok. Adik saya yang ini walau masih SMP tapi tingginya sudah hampir menyamai saya, padahal saya sendiri sebagai cowok sudah termasuk berukuran tinggi di antara rekan-rekan sebaya saya. Harapan saya terhadap adik saya yang paling kecil ini adalah semoga kelak dia nanti kuliahnya masuk jurusan sains mengingat ketiga kakaknya sudah kuliah di jurusan sosial semua (Kakak saya akuntansi, saya hukum, dan adik saya manajemen), padahal kami bertiga SMAnya mengambil IPA tapi “murtad” semua dengan mengambil jurusan sosial ketika kuliah hehehe….

Mengenai papa dan mama saya, Alhamdulillah mereka berada dalam kondisi yang sehat. Walau sempat panik karena Papa pada tahun ini sempat beberapa kali bolak-balik dirawat di rumah sakit, tapi secara overall dengan istirahat yang cukup kondisi Papa pun berangsur-angsur membaik. Mungkin salah satu penyebab Papa yang biasanya ga pernah sakit parah adalah karena ia sedang mengerjakan proyek di Yogyakarta sehingga ia jauh dari keluarga. Sebagai solusinya sekarang alih-alih Papa yang bolak-balik ke Depok tiap beberapa minggu sekali sekarang gantian Mama yang bolak-balik mengunjungi Papa di Yogyakarta sehingga bisnis gypsum Mama di Depok pun dikendalikan secara “remote” dengan bantuan saya dan kakak saya sebagai kepanjangan tangan beliau. Btw salah satu impian mereka adalah kembali ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah umroh dan saya sungguh berharap Allah akan mengabulkan doa mereka.

Tanpa terasa tulisan ini sudah memasuki bagian penghujung dan saya akan berusaha sekuat mungkin agar ini nanti akan hadir tulisan-tulisan lain yang menghiasi blog ini. Demikian dari saya dan terimakasih sudah berkenan mengunjungi blog saya.


Depok, 28 Juli 2015

Sabtu, 09 Maret 2013

Passion vs Realitas





Deretan empat angka di pojok kanan bawah laptop telah menunjukkan pukul 01.36, namun kuatnya pengaruh kopi yang sengaja saya campur dengan porsi gula yang sedikit membuat saya tetap segar. Padahal saya baru saja mengarungi perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek, mulai dari menghadiri pernikahan kak Wulan yang merupakan kepala divisi humas dan publikasi MWA UI UM 2009 di Cililitan hingga sharing dengan Putu -alumni FIM- di Pasar Festival Kuningan. Namun keinginan untuk mewarnai blog dan tumblr saya minimal seminggu sekali dengan buah ketikan terbaru sesuai dengan janji terbaru saya (walau janji ini telah berkali-kali saya khianati) membuat saya tetap bertahan hingga tulisan ini selesai, tak peduli betapa padatnya agenda saya pada hari Minggu ini.
Sesuai dengan tajuk tulisan ini, dua hal tersebut merupakan problem yang belum dapat saya selesaikan hingga saat ini. Meski saya tahu perihal serupa juga menghinggapi banyak teman, senior, maupun junior saya, tetapi pada umumnya mereka telah memutuskan yang terbaik bagi mereka. Dari kedua opsi tersebut, sebagian besar dari mereka menyerah dan tunduk pada realitas. Tetapi sesungguhnya itu bukan hal yang salah. Bagi yang telah terjun di tengah kejamnya dunia pasca kampus pasti memahami hal ini. Berbeda dengan teman-teman mahasiswa yang meski sebagian (atau mayoritas?) diantaranya telah memahami area abu-abu, namun pada umumnya masih memandang dunia dari  kacamata hitam dan putih. Konsekuensi bagi mereka yang memilih tunduk pada realitas adalah mereka terpenjara pada rutinitas yang mereka sebenarnya tidak sukai meski hal tersebut membuat kebutuhan primer mereka tercukupi bahkan berlebih. Sementara itu saya bersama kaum minoritas memilih untuk berkarier sesuai dengan passion yang kita miliki. Meski kita merasa merdeka, namun kemerdekaan tersebut selalu diiringi dengan pertanyaan sampai mana kita mampu bertahan. Sebab apa yang kita dapat lebih banyak berbentuk intangible daripada yang tangible. Alhasil kemerdekaan itu kerap berasa semu.
Lalu apakah antara passion dan realitas bisa berjalan seiring? Jawabannya ya!!! Tetapi untuk mewujudkannya dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Oleh karena itu bagi mereka yang mampu mendamaikan kedua hal ini maka dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang sembarangan, bahkan tidak sedikit yang menjadi orang besar mengingat berdamainya kedua hal ini akan memuluskan jalan perealisasian mimpi besar yang kita idamkan.  Kemudian bagaimana caranya? Dari hasil sharing saya dengan sahabat-sahabat saya, juga dengan mereka yang telah sukses dan menjadi “tokoh” ada satu konklusi yang berhasil saya dapatkan. Hanya dengan melakukan sesuatu yang sesuai dengan passion yang mampu kita membawa ke titik yang kita impikan bahkan mungkin melebihi dari apa yang kita cita-citakan. Namun dibutuhkan daya tahan yang kuat untuk mencapai titik tersebut, oleh karena itulah unsur realitas dibutuhkan. Karena ketiadaan unsur realitas dapat membuat kita lupa untuk menjejak bumi di kala bahan bakar yang kita butuhkan untuk terus mengangkasa mulai menipis.
Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk melalui jalur realitas terlebih dahulu? Apakah mereka bisa tetap mewujudkan mimpi mereka?  Jawabannya tentu saja. Bahkan dalam opini pribadi saya, inilah jalur yang paling aman dilalui. Sebab dengan bahan bakar yang mencukupi maka kita memiliki modal yang cukup untuk mengarungi ke suatu angkasa yang masih asing bagi kita. Namun perlu diingat, bahwa bisa  jadi kita tak akan pernah mengangkasa karena kita sudah terjebak dalam zona nyaman yang melenakan. Saking nyamannya kita berada dalam zona tersebut, kita abaikan passion kita karena kita terlalu takut untuk jatuh ketika kita mengangkasa. Akibatnya mimpi besar kita tak pernah tergapai oleh karena kita terus terjebak dalam zona nyaman. Lalu apakah salah jika kita terus terjebak dalam zona nyaman? Jawabannya adalah tidak jika anda tanyakan pada saya. Sebab tidak mudah hidup dalam zona yang labil, oleh karena itu dapat dipahami jika mayoritas manusia di muka bumi ini cenderung mencari zona nyaman.
Sekarang bagaimana dengan saya? Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya bahwa saya belum selesai dalam hal ini. Banyak pertimbangan beradu di dalam otak saya. Saya tak tahu butuh berapa lama bagi saya untuk menyelesaikan problem ini. Satu hal yang jelas saya tidak ingin mimpi besar saya padam. Apapun jalur yang saya pilih untuk langkah awal saya, pada akhirnya saya harus bisa mendamaikan passion dan realitas. Ya, semoga.........

Depok,
Pukul 03.21 WIB

Minggu, 19 Agustus 2012

Dua Mimpi Danar



“Terpenjara dalam dekapan mimpi itu berbahaya, tidak ada jalan yang lebih baik selain bangun di kala mimpi itu menemui jalan buntu”




Malam mungkin semakin larut ketika huruf pertama dari artikel ini diketik. Namun keinginan untuk berbagi begitu membuncah dalam diri saya ditambah lagi tidak ada obligasi bagi saya untuk ke kantor keesokan harinya karena memang sedang dalam suasana libur lebaran. Oleh karena itu mengapa kesempatan untuk menetaskan apa yang ada di dalam benak saya tidak saya manfaatkan?

Melihat catatan postingan terakhir di blog ternyata sudah hampir 6 bulan saya tidak memperbarui isi blog ini. Padahal banyak sekali hal yang menarik yang saya alami selama 6 bulan ini. Jika 6 bulan lalu saya baru saja melalui ritual wisuda, maka saat ini saya sedang berada dalam gegap gempita dunia kerja. Pekerjaan saya saat ini tidak jauh dari passion saya, yakni dunia sosial dimana saya beruntung mendapatkan kesempatan menempa diri saya di Rumah Perubahan yang didirikan dan dipimpin langsung oleh Prof Rhenald Kasali. Namun sekali lagi berbagai cerita menarik mengenai pengalaman saya di Rumah Perubahan tampaknya akan saya ceritakan pada postingan lain (moga-moga tidak malas nulis, I’m promised!!).

Hal yang ingin saya angkat di sini adalah tentang mimpi saya. Ya mimpi!! Saya bukanlah orang yang mudah fokus terhadap suatu hal sehingga menyulitkan saya untuk menentukan gol utama saya. Jika dikatakan bahwa mimpi utama saya adalah ingin menjadi Walikota Depok seperti yang pernah diutarakan sebelumnya, maka itu tidak salah dan tidak sepenuhnya benar mengacu dengan situasi terkini. Rahasia dunia yang pelan-pelan terungkap satu persatu oleh saya membuat saya mengalami  keraguan untuk tetap setia pada mimpi tersebut. Sekarang walaupun masih samar-samar, namun hati saya mengatakan bahwa saya ingin menjadi seorang pemimpin (apapun ragam bentuknya) di daerah yang penuh keterbelakangan dan ketertinggalan. Sakit rasanya hati ini melihat kesenjangan yang terjadi di luar sana. Di tambah lagi di daerah-daerah yang feodalismenya masih kuat sementaranya rakyatnya masih banyak yang belum tercerdaskan, maka yang terjadi adalah penghisapan yang dilakukan oleh segelintir kelompok yang jahat. Saya berharap suatu saat nanti saya dapat mewujudkannya cepat atau lambat.

Sayangnya mimpi tersebut memiliki penghalang utama yang berasal dari mimpi saya yang lain, yakni KELILING DUNIA!!! Bahkan beberapa minggu yang lalu ketika melihat Singapore Airlines promo tiket Jakarta - London PP dengan tarif sebesar 1288 $ saya sempat terdorong menghabiskan sebagian uang tabungan saya yang jumlahnya pun tidak mencapai dua kali lipat dari harga tiket tersebut untuk mewujudkan cita-cita menginjak tanah Eropa. Tapi kali ini saya kalah dan memutuskan untuk menahan diri. Terkait alasan mengapa mimpi ini dapat menghalangi mimpi besar saya untuk menjadi pemimpin di suatu daerah dikarenakan cara untuk mewujudkan keliling dunia hanya ada tiga, yakni pertama jadi orang kaya, kedua jadi diplomat, dan terakhir modal nekat.  Satu-satunya jalan untuk bisa meraih kedua mimpi ini adalah dengan menjadi orang kaya (dengan cara halal tentunya hehe). 

Penghalang lainnya dari kedua mimpi di atas adalah jika saya tak menemukan istri yang tepat (kok nyambungnya jadi istri??). Terkait mimpi pertama jelas, bagaimanapun juga tidak ada pemimpin yang disukai semua orang (termasuk Nabi Muhammad sekalipun) apalagi jika ia menjunjung kebenaran. Dibutuhkan wanita yang bermental kuat dan mampu menjadi pengayom untuk mendampingi suami seperti ini. Kemudian terkait mimpi yang kedua mungkin tidak masalah jika saya keliling dunia dengan bermodalkan kekayaan saya atau bila saya berprofesi sebagai diplomat. Sebaliknya jika bermodalkan nekat jelas saya akan sangat menzalimi istri saya nanti. Pada akhirnya saya yang dahulu ingin sekali menikah muda menjadi tidak lagi terlalu berambisi untuk itu. Saya sekarang cenderung  tidak terlalu peduli jikalau nanti saya akan menggenapi separuh agama saya di usia yang agak telat (tapi tentunya semoga tidak ^^).  

Seperti yang saya sebutkan dalam quotes di awal artikel ini, terpenjara dalam mimpi itu berbahaya dan saya menyadarinya. Namun selama labirin mimpi itu masih menunjukkan seberkas jalan, maka saya akan terus mengerahkan daya, meningkatkan kapasitas diri serta terus berikhtiar agar mampu mewujudkan semua itu. Selebihnya biarlah Allah yang menentukan karena tak mungkin Ia menelantarkan hambanya begitu saja.

Rabu, 29 Februari 2012

Momen-Momen Penting di Februari


Bodoh sekali saya tidak menulis satupun di bulan Februari kemarin meskipun Februari tersebut lebih panjang sehari dan hanya terjadi empat tahun sekali. Padahal ada banyak momen-momen penting yang baru rasakan pertama kali di bulan Februari 2012 ini, mulai dari mendaki gunung yang baru pertama kali dan itupun langsung mencapai puncak Lawu yang merupakan puncak tertinggi ketiga di Pulau Jawa dengan tinggi mencapai 3.285 m dari permukaan laut. Pendakian itu sendiri berlangsung dari tanggal 31 Januari sampai 1 Februari. Cerita mengenai petualangan saya bersama empat kawan saya yang lain sangat menarik, tapi mungkin di lain waktu akan saya ceritakan.

Kemudian pengalaman saat dijamu dengan wah ketika menjadi finalis lomba blog Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia  alias DPD RI. Walau ga menang tapi benefit yang saya dapatkan sangat luar biasa. Mulai dari menginap dua malam di hotel The Sultan yang tarifnya minimal sejuta/malam(walau saya cuma menginap semalam karena di hari pertama saya tidak bisa hadir). Lalu makan di restoran yang sangat mewah di kawasan Ancol. Mendapatkan berbagai suvenir dari DPD dan hadiah untuk finalis sebesar ....... (rahasia hehe. ) Sayangnya karena saya tidak hadir di hari pertama pula maka saya menjadi tidak mendapatkan buku biografi ketua DPD RI saat ini, yakni Irman Gusman. Btw lomba itu sendiri bertujuan untuk mengenalkan DPD yang dalam faktanya merupakan lembaga negara baru yang hadir pasca amandemen yang paling ga terkenal.  Oiya walau biaya penyelenggaraan lomba dan jamuan untuk para finalis berasal dari kantong anggota DPD RI dan bukan dari duit negara, tapi di dalam hati saya tetap ada kegundahan. Melihat mewahnya standar jamuan tersebut bagi orang kebanyakan yang juga menjadi standar lembaga-lembaga negara lainnya membuat saya bertanya-tanya bagaimana mungkin mereka bisa peka terhadap masalah yang dialami rakyatnya jika mereka selalu hidup nyaman seperti ini. Saya yakin bila entah itu DPR, DPD, Kementerian, dan lain-lain mau menurunkan standar mereka yang di atas normal tentu banyak anggaran negara yang dihemat, tapi ah sudahlah tulisan kali ini bukan untuk membahas hal tersebut.

Oiya pengalaman luar biasa lainnya di bulan Februari kemarin adalah wisuda yang berlangsung pada tanggal 18 Februari 2012 atau bertepatan dengan hari ulangtahun ke-18 adik saya yang saat ini baru semester 2 di Manajemen FEUI. Melihat dipampangnya kesuksesan wisudawan dan wisudawati lainnya baik mereka yang merupakan lulusan terbaik di fakultasnya ataupun yang berhasil lulus cumlaude di depan khalayak ramai yang menghadiri balairung saat itu membuat saya benar-benar ingin menangis menyesal karena gagal memanfaatkan momen tersebut untuk sedikit membayar hutang kasih sayang yang terus diberikan tiada hentinya oleh orang tua saya. Sejujurnya dengan raihan IP yang luar biasa di semester-semester penghujung kuliah saya membuat saya kesal terhadap kemalasan saya di semester-semester awal. Tapi bagaimana lagi sesal memang tiada guna.

Terakhir momen luar biasa di bulan Februari ini adalah merasakan pengalaman menjadi job seeker hehe. Sebenarnya saya sendiri sudah sempat ditawari kerja atau magang oleh dua LSM yang core utamanya bidang hukum walau kedua LSM tersebut memiliki ranah konsentrasi yang berbeda.  Tetapi karena saya memiliki passion untuk jadi pengusaha, maka saya ingin mencari pengalaman terlebih dahulu di tempat yang dapat memberikan bekal untuk mewujudkan passion saya tersebut. Untuk hal ini kayanya akan saya ceritakan dalam postingan berikut hehe,,, Thanks for reading, hope it won’t be useless story  hehe,,, Btw as Prof Mubyarto said (an economical expert from UGM ), better to write something which is considered as rubbish than become rubbish in your mind. So what’re you waiting for?? Keep writing and sharing guys hehe,,,

Kamis, 05 Januari 2012

Tantangan Indonesia 2012:Mempertahankan Tradisi Emas Olimpiade


*Tulisan ini dimuat di harian Seputar Indonesia edisi 5 Januari 2011            

          Euforia keberhasilan Indonesia di SEA GAME S 2011 masih terasa. Tercatat perolehan 182 emas memastikan posisi Indonesia untuk merebut supremasi tertinggi dalam ajang multievent terbesar di Asia Tenggara ini. Namun gegap gempita kemenangan tersebut harus diakhiri sebab ajang yang multi cabang terbesar sejagad raya, yakni Olimpiade 2012 yang akan berlangsung di London sudah menanti.
            Keikutsertaan Indonesia di Olimpiade 2012 sendiri menandai 60 tahun partisipasi Indonesia sejak kita mengirimkan kontingen pertama kita, yakni Soedarmodjo (atletik), Soeharko (renang) dan Thio Ging Wie (angkat besi) pada Olimpiade 1952 di Helsinki.[1]  Sekarang walaupun Indonesia telah memiliki 25 atlet yang telah lolos kualifikasi Olimpiade 2012 dari 12 cabang dan bisa bertambah lagi karena beberapa cabang masih terbuka kualifikasinya, suara-suara pesimis mengenai peluang Indonesia untuk melanjutkan tradisi emas telah menyeruak ke permukaan. Hal ini dikarenakan buruknya prestasi bulutangkis Indonesia yang merupakan tumpuan utama Indonesia dalam meraih emas sepanjang tahun ini. Tercatat hanya 2 gelar dari total 65 gelar yang diraih Indonesia dalam 13 ajang Badminton Super Series sepanjang tahun 2011.[2] Kemudian Indonesia hanya menempatkan satu atletnya dalam daftar peringkat 5 besar bulutangkis dunia melalui pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir.[3] Sementara di tunggal putri Indonesia hingga saat ini belum satupun pemain yang peringkatnya cukup untuk lolos olimpiade. Ironisnya ajang SEA GAMES yang idealnya dijadikan sebagai tempat penggemblengan atlet muda bulutangkis, justu diikuti oleh atlet-atlet senior Indonesia. Sebaliknya Thailand dan Malaysia yang memiliki atlet papan atas bulutangkis justru menjadikan momen SEA GAMES ini sebagai panggung atlet muda karena mereka memfokuskan atlet seniornya demi olimpiade 2012.
            Di cabang lain yang menjadi tumpuan Indonesia untuk mendulang medali, yakni angkat besi sejauh ini baru meraih 5 tiket ke olimpiade yang semuanya diraih oleh tim putra. Sementara tim putri masih belum mendapatkannya.[4] Salah satu penyebab masih sedikitnya atlet angkat besi yang lolos adalah karena berbenturannya waktu kualifikasi olimpiade yang berlangsung di Paris pada tanggal 4-13 November dengan SEA GAMES yang berlangsung pada tanggal 11-22 November 2011. Sayangnya dengan bonus besar yang menanti untuk para juara SEA GAMES serta tuntutan target untuk menjadi juara umum SEA GAMES, maka kualifikasi olimpiade tersebut menjadi kurang diprioritaskan .
            Ke depannya hal ini tak boleh terulang lagi. Demi kepentingan jangka panjang seharusnya KONI dan Pengurus Besar tiap cabang olahraga tegas dalam menentukan prioritas ajang yang diikuti. Kemudian demi pembinaan atlet-atlet muda mendapat alokasi terbesar untuk mengikuti ajang-ajang tingkat regional seperti SEA GAMES dan ajang nasional seperti PON. Sementara itu dengan semakin dekatnya perhelatan olimpiade 2012, maka demi melanjutkan tradisi medali terutama medali emas perlu dilakukan tindakan sebagai berikut, yakni memperbaiki sarana dan prasarana berlatih, mengaplikasikan sains olahraga untuk mengukur dan meningkatkan potensi kemampuan atlet, serta meningkatkan frekuensi pengiriman atlet untuk bertanding atau beruji coba di luar negeri. Diharapkan dengan langkah-langkah tersebut maka lagu Indonesia Raya akan berkumandang di London ketika prosesi pengalungan medali emas berlangsung.


                [1]http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/5/94/siapa_atlit_pertama_indonesia_di_olimpiade
                [2] http://en.wikipedia.org/wiki/2011_BWF_Super_Series#Results
                [3] http://www.bwfbadminton.org/page.aspx?id=14955
                [4] http://www.beritasatu.com/mobile/ekonomi/21189-angkat-besi-targetkan-satu-tiket-lagi-di-olimpiade.html

Sabtu, 31 Desember 2011

Mengakar Dahulu, Memperkuat Kedudukan DPD dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Kemudian

DPD itu apa sih? DPD itu makhluk apa sih? DPD apanya DPR sih? Dan masih banyak lagi ketidaktahuan masyarakat kita mengenai DPD. Bahkan tidak jarang pula sebagian orang salah kaprah dalam menyebutkan kepanjangan DPD dimana alih-alih menyebutkan DPD sebagai Dewan Perwakilan Daerah malah DPD dimaknai sebagai Dewan Pimpinan Daerah yang merupakan kepanjangan tangan partai di daerah tingkat I.
DPD sebagai suatu lembaga baru yang lahir pasca amandemen UUD 1945 kehadirannya masih terasa asing di tengah masyarakat walau telah dua periode pemilu berlalu. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan fungsi dan wewenang DPD khususnya warga daerah yang diwakilinya pantas dicermati lebih mendalam. Sebab di tengah keinginan sejumlah anggota DPD untuk memperkuat fungsi DPD supaya  sistem bikameral di Indonesia tidak berjalan semu akibat dominannya peranan DPR, kekurang mengakaran DPD di tengah masyarakat jelas kontraproduktif terhadap misi ini.
Sesungguhnya seruan penguatan fungsi DPD melalui amandemen UUD 1945 agar efektivitas keberadaan DPD lebih optimal telah lama menggema. Tetapi sayangnya seruan tersebut lebih banyak digelorakan internal DPD sendiri maupun dari kalangan akademisi. Sementara kalangan akar rumput yang merupakan basis konstituen dari para anggota DPD ini cenderung tidak tahu apa-apa mengenai permasalahan yang dialami DPD ini.
Dalam kenyataannya dukungan dari publik tidak dapat dipandang sebelah mata. Selama ini upaya DPD agar fungsi dan wewenangnya diperkuat melalui amandemen pengaturan DPD dalam UUD 1945 sulit dilakukan. Sebab untuk mengamandemen UUD 1945 dibutuhkan persetujuan dari 50% ditambah satu suara di MPR dengan kehadiran minimal 2/3 dari seluruh anggota MPR.[1] Padahal anggota MPR yang berjumlah 692 orang, konfigurasinya sangat menyimpang, yakni anggota DPD hanya berjumlah 132 sementara sisanya diisi oleh anggota DPR.[2] Timpangnya konfigurasi ini membuat menyulitkan upaya DPD untuk mengegolkan rencana amandemen UUD 1945. Ditambah lagi sebagian anggota DPR masih memiliki ego tentang superiotas DPR sebagai eks satu-satunya lembaga legislatif di Indonesia sebelum DPD hadir.
Untuk mengatasi hal itu maka selain lobi-lobi politik dengan pihak-pihak terkait, DPD tidak bisa mengabaikan peranan publik akar rumput. Bagaimanapun juga baik anggota DPD dan anggota DPR sama-sama dipilih rakyat yang pastinya saling beririsan. Kedua lembaga tersebut sama-sama membutuhkan legitimasi dari masyarakat. Menyadari kenyataan ini maka alangkah baiknya DPD secara massif mulai menyosialisasikan keberadaan DPD di tengah masyarakat. Setelah keberadaan DPD tersosialisasi dengan baik kemudian secara bertahap DPD memberikan edukasi politik tentang pentingnya penguatan fungsi DPD. Diharapkan kesadaran masyarakat tidak hanya terbangun seutuhnya namun juga tergugah untuk ikut mendorong penguatan fungsi DPD. Dari titik ini DPD mendapatkan modal berharga bila lobi politik di tingkat atas menemui jalan buntu. Jika hal ini terjadi maka masyarakat pasti tidak akan tinggal diam. Dengan telah tergugahnya kesadaran masyarakat untuk ikut aktif mendorong penguatan fungsi DPD membuat agregat dukungan memuncak dan perlahan-lahan timbul tekanan publik yang terus bereskalasi.  Adanya tekanan yang berlangsung dengan penuh kontinuitas ini lambat laun akan membuat pihak yang selama ini menjegal penguatan fungsi DPD tergugah sehingga selanjutnya mereka pasti mempertimbangkan pelolosan amandemen UUD 1945 untuk memperkuat kedudukan DPD di tataran ketatanegaraan kita. Kemudian mimpi untuk menguatkan fungsi DPD agar mampu berperan optimal pun dapat terwujud untuk selanjutnya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi NKRI.


[1]Lihat pasal 37 UUD 1945.
[2]Susunan MPR periode 2009-2014

Senin, 05 September 2011

GALAU BERAT SAMA BEM UI 2010








Melihat dinamika kampus dua bulan terakhir yang menghangat karena >biasalah pergerakan mahasiswa penuh gesekan dan intrik< dan yang terbaru munculnya gerakan untuk mengkoreksi pak rektor UI, tiba-tiba membuat gw bener-bener kangen sama suasana Pusgiwa lantai 2. Kangen ngobrol sama-sama temen-temen. Kangen maen PS bareng ketika "jam kerja" BEM selesai. Kangen pulang malam karena keasyikan diskusi. Kangen rapat-rapat kesmalink. Kangen ceng-cengan sama  yang lain. Kangen "diintrikkin" sama pihak yang ga suka sama BEM UI hehe.. Kangen aksi ke jalanan bareng,,, Kangen nongkrong-nongkrong ga jelas di Pusgiwa. Pokoknya kangen segalanya deh. Sejujurnya kenangan di BEM UI 2010 itu mahal harganya. Ternyata apa yang dikatakan bang Edwin eks ketua BEM UI 2008 itu benar, ia sempat bilang bahwa ia sama sekali ga mau ngulang masa-masa berat di BEM tapi di sisi lain ga ada pengalaman yang lebih ia rindukan selain pengalaman di BEM UI 2008.

Bersyukurlah teman-teman yang pernah gabung BEM UI dan ga gabut (Kalo gabut jelas ga bakal terasa bekasnya). Lewat BEM UI kalian berkesempatan kenal dengan temen-temen dari hampir semua fakultas. Lewat BEM UI kalian bisa kenal orang-orang dari pelbagai karakter. Lewat BEM UI kalian bisa ngerasain riweuhnya jadi event organizer dan pusingnya mikirin gerakan. Lewat BEM UI kalian akan merasa rektorat tega bener menempatkan pusgiwa pada lokasi terasing yang ga dilewatin bis kuning. Pokoknya buat anak 2009,2010,2011, dan seterusnya yang ga sengaja nemu tulisan ini, saran gw cobain deh seumur hiduplo gabung BEM UI gw jamin lo ga bakal nyesel hehe,,,