Sabtu, 09 Maret 2013

Passion vs Realitas





Deretan empat angka di pojok kanan bawah laptop telah menunjukkan pukul 01.36, namun kuatnya pengaruh kopi yang sengaja saya campur dengan porsi gula yang sedikit membuat saya tetap segar. Padahal saya baru saja mengarungi perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek, mulai dari menghadiri pernikahan kak Wulan yang merupakan kepala divisi humas dan publikasi MWA UI UM 2009 di Cililitan hingga sharing dengan Putu -alumni FIM- di Pasar Festival Kuningan. Namun keinginan untuk mewarnai blog dan tumblr saya minimal seminggu sekali dengan buah ketikan terbaru sesuai dengan janji terbaru saya (walau janji ini telah berkali-kali saya khianati) membuat saya tetap bertahan hingga tulisan ini selesai, tak peduli betapa padatnya agenda saya pada hari Minggu ini.
Sesuai dengan tajuk tulisan ini, dua hal tersebut merupakan problem yang belum dapat saya selesaikan hingga saat ini. Meski saya tahu perihal serupa juga menghinggapi banyak teman, senior, maupun junior saya, tetapi pada umumnya mereka telah memutuskan yang terbaik bagi mereka. Dari kedua opsi tersebut, sebagian besar dari mereka menyerah dan tunduk pada realitas. Tetapi sesungguhnya itu bukan hal yang salah. Bagi yang telah terjun di tengah kejamnya dunia pasca kampus pasti memahami hal ini. Berbeda dengan teman-teman mahasiswa yang meski sebagian (atau mayoritas?) diantaranya telah memahami area abu-abu, namun pada umumnya masih memandang dunia dari  kacamata hitam dan putih. Konsekuensi bagi mereka yang memilih tunduk pada realitas adalah mereka terpenjara pada rutinitas yang mereka sebenarnya tidak sukai meski hal tersebut membuat kebutuhan primer mereka tercukupi bahkan berlebih. Sementara itu saya bersama kaum minoritas memilih untuk berkarier sesuai dengan passion yang kita miliki. Meski kita merasa merdeka, namun kemerdekaan tersebut selalu diiringi dengan pertanyaan sampai mana kita mampu bertahan. Sebab apa yang kita dapat lebih banyak berbentuk intangible daripada yang tangible. Alhasil kemerdekaan itu kerap berasa semu.
Lalu apakah antara passion dan realitas bisa berjalan seiring? Jawabannya ya!!! Tetapi untuk mewujudkannya dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Oleh karena itu bagi mereka yang mampu mendamaikan kedua hal ini maka dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang sembarangan, bahkan tidak sedikit yang menjadi orang besar mengingat berdamainya kedua hal ini akan memuluskan jalan perealisasian mimpi besar yang kita idamkan.  Kemudian bagaimana caranya? Dari hasil sharing saya dengan sahabat-sahabat saya, juga dengan mereka yang telah sukses dan menjadi “tokoh” ada satu konklusi yang berhasil saya dapatkan. Hanya dengan melakukan sesuatu yang sesuai dengan passion yang mampu kita membawa ke titik yang kita impikan bahkan mungkin melebihi dari apa yang kita cita-citakan. Namun dibutuhkan daya tahan yang kuat untuk mencapai titik tersebut, oleh karena itulah unsur realitas dibutuhkan. Karena ketiadaan unsur realitas dapat membuat kita lupa untuk menjejak bumi di kala bahan bakar yang kita butuhkan untuk terus mengangkasa mulai menipis.
Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk melalui jalur realitas terlebih dahulu? Apakah mereka bisa tetap mewujudkan mimpi mereka?  Jawabannya tentu saja. Bahkan dalam opini pribadi saya, inilah jalur yang paling aman dilalui. Sebab dengan bahan bakar yang mencukupi maka kita memiliki modal yang cukup untuk mengarungi ke suatu angkasa yang masih asing bagi kita. Namun perlu diingat, bahwa bisa  jadi kita tak akan pernah mengangkasa karena kita sudah terjebak dalam zona nyaman yang melenakan. Saking nyamannya kita berada dalam zona tersebut, kita abaikan passion kita karena kita terlalu takut untuk jatuh ketika kita mengangkasa. Akibatnya mimpi besar kita tak pernah tergapai oleh karena kita terus terjebak dalam zona nyaman. Lalu apakah salah jika kita terus terjebak dalam zona nyaman? Jawabannya adalah tidak jika anda tanyakan pada saya. Sebab tidak mudah hidup dalam zona yang labil, oleh karena itu dapat dipahami jika mayoritas manusia di muka bumi ini cenderung mencari zona nyaman.
Sekarang bagaimana dengan saya? Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya bahwa saya belum selesai dalam hal ini. Banyak pertimbangan beradu di dalam otak saya. Saya tak tahu butuh berapa lama bagi saya untuk menyelesaikan problem ini. Satu hal yang jelas saya tidak ingin mimpi besar saya padam. Apapun jalur yang saya pilih untuk langkah awal saya, pada akhirnya saya harus bisa mendamaikan passion dan realitas. Ya, semoga.........

Depok,
Pukul 03.21 WIB