Selasa, 19 Juli 2011

Timeline Politik Nano-Nano yang Menghibur Hati yang Nano-Nano

Setres!! Itulah yang ada di benak saya hari ini. Sebab niat eksekusi bisnis lele dan bebek yang harusnya udah bisa dilakukan pada awal Agustus ini menjadi harus dijadwal ulang kembali. Penyebabnya tidak lain adalah karena pemilik lahan yang tadinya mau diajak kerja sama membatalkan rencananya untuk meminjamkan lahannya. Padahal lahan merupakan hal yang krusial dalam melaksanakan bisnis peternakan dan dalam realitanya tidak mudah mendapatkan lahan yang mudah untuk digarap. Tapi ya sudahlah setidaknya saya dan teman saya cuma rugi waktu dan mungkin ongkos survei ke lapangan yang tidak seberapa. Yang penting ganjalan ini bisa dijadikan pengalaman berharga dalam masuk ke bisnis peternakan.

Oiya terkait timeline yang nano-nano, jadi kebetulan di timeline saya dari awal saya online malam di twitter hari ini hingga pukul 1.45 dinihari ini terdapat aktor-aktor politik yang sedang membahas pemira. Dimulai dari curhat salah satu panitia pemira terkait chaosnya pemira tahun kemarin dan disusul curhat dari salah satu anggota lembaga legislatif tingkat universitas yang merasakan kuatnya tarik menarik kepentingan dalam kehidupan politik kampus. Saya yang udah mahasiswa tingkat akhir ini pun hanya tersenyum melihat seliweran tweet-tweet tersebut di timeline saya. Saya membaca rangkaian tweet-tweet tersebut, namun saya sama sekali tidak berminat untuk berkomentar because it’s useless!!  You should take care in other issues that give benefit for you and maybe for people around you. Kenapa saya berkomentar seperti ini di dalam blog saya?? Karena saya kapok sempat memiliki rasa benci yang besar pada beberapa kelompok yang dalam persepsi saya berlaku secara tidak baik (walaupun besar juga kemungkinan bahwa yang tidak baik sebenarnya adalah saya) di dalam diri saya akibat terjebak dalam ruwetnya dunia politik kampus.

Pada akhirnya dalam tulisan yang sangat ringan ini (males mikir ribet) saya ingin menyimpulkan bahwa sesungguhnya  quotes ini A politician thinks of the next election. A statesman, of the next generationnyaris benar apa adanya. Nah tugas kitalah (kita?? gw ga ikutan kali :p) untuk merubah stigma bahwa politik itu hanyalah pertempuran kepentingan semata menjadi suatu sarana untuk mewujudkan pengabdian kita kepada masyarakat tempat kita bernaung. Oiya ada tweet mantap dari eks Kadep saya di BEM UI dulu yakni Ridhaninggar, 


“Untuk berkontribusi di kampus, mungkin memang lebih baik ga tau politik kmpus. Untuk berkontribusi di Indonesia, mungkin memang lebih baik ga tau politik penguasa.”

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa dalam faktanya mungkin apa yang diungkapkannya nyaris benar 100%. Dalam faktanya memang sangat sedikit ada politikus yang berjiwa negarawan. Oleh karena itulah saya telah mencamkan dalam hati saya bahwa bila nanti saya akan terjun ke partai politik maka saya hanya boleh melakukannya jika dua syarat ini telah terpenuhi, yakni hidup berkecukupan dan berjiwa kenegarawanan. Jika dua hal ini gagal terpenuhi, sementara saya memaksakan tetap bergabung ke dalam partai politik hanya untuk memenuhi ego saya atau malah (naudzubillah) untuk kepentingan pribadi maka kelak yang terjadi adalah saya akan menjadi serupa dengan tipikal sebagian besar politikus Indonesia saat ini.

Semoga Allah senantiasa menjaga integritas kita dalam setiap langkah kita ^^

Minggu, 17 Juli 2011

Catatan Perjalanan Danar Sebagai Seorang Traveller (Prolog)



Tak dinyana pasca pertama kalinya mencoba travel sendirian ke Yogyakarta pada akhir 2007, berikutnya saya pun menjadi ketagihan. Dengan lepasnya status pelajar SMA cupu menjadi mahasiswa yang (sok) dewasa, lalu meningkatnya uang saku dari orang tua, serta tambahan dari kerja part time seperti mengajar les membuat peluang saya untuk bertualang ke suatu tempat apalagi secara independen alias “backpacking” semakin besar. Namun untuk mewujudkan itu semua ada dua hal yang harus dipenuhi:

1.      1. Tekad yang kuat!!!
Banyak sekali mahasiswa yang (maaf) omdo dalam hal berwisata secara backpacking! Kalau berwacana jago tetapi ga ada realisasi alias finishing 0! Sejujurnya kalo kita ga memiliki tekad yang kuat maka rencana wisata kita ga bakal terwujud deh walau duit kita segunung. Jadi asal tekad lo kuat, dengan anggaran yang kecilpun kita bisa berwisata ke berbagai tempat tentunya dengan perencanaan yang tepat sebelum berangkat.
2.      2. Izin orang tua!!!
Bagaimanapun juga izin dan doa restu orangtua mutlak diperlukan tanpa izin dan doa restu mereka perjalanan kita pun menjadi tidak diridhoi oleh Allah.

Kalau dirunut bentuk pengalaman travel saya beraneka rupa, ada yang backpacking baik murni maupun setengah murni, ada yang dalam bentuk tur organisasi, hingga pergi karena suatu konferensi. Insya Allah karena terinspirasi blognya fajri (teman SMA saya) yang rajin mengisahkan perjalanannya maka saya pun juga ingin berbagi mengenai pengalaman saya. Apalagi dengan mendokumentasikannya ke dalam bentuk tulisan maka pengalaman saya pun akan terekam abadi dibandingkan mengandalkan memori otak yang daya ingatnya terbatas.

Oiya jika dihitung-hitung hingga waktu ini saya telah mengunjungi 7 provinsi dan 2 negara. Dari ketujuh provinsi tersebut hanya Sumatera Selatan saja satu-satunya provinsi di luar Jawa yang pernah saya kunjungi. Harusnya daftar itu bertambah dengan Bali pada bulan Juni lalu, sialnya pada hari keberangkatan pesawat saya harus ujian susulan pada satu mata kuliah akibat saya tidak hadir pada UTSnya karena sakit. Sialnya lagi cuma dapat B- pada mata kuliah itu. Pokoknya jengkel banget deh kalo inget itu. Btw pasca sidang skripsi januari nanti (amiiin) saya berencana untuk backpacking ke satu provinsi. Hingga kini saya masih belum menentukan target, tapi pasti salah satu diantara Sumatera Barat, NTT, dan NTB. Saya berharap ada rekan yang menemani, tapi jika tidak ada saya siap solo backpacker hehe,,,

Untuk negara, saat ini saya telah mengunjungi Singapura dan Vietnam. Insya Allah list itu akan bertambah pada September nanti karena saya berencana mengunjungi Malaysia melalui Singapura. Perlu diketahui bahwa tidak HARUS JADI ORANG KAYA untuk liburan ke luar negeri. Kebetulan maskapai AirAsia beberapa kali mengadakan promo tiket murah bahkan GRATIS dan Alhamdulillah kedua perjalanan saya ke Singapura dan Vietnam itu salah satunya terjadi berkat peran tiket murah. Khusus Vietnam tiket saya benar-benar GRATIS lho ^_^ 

Dalam backpacking rekan perjalanan saya bervariasi mulai dari kakak dan adik saya hingga teman-teman saya. Saya bersyukur dianugerahi kakak perempuan yang tidak hanya menyayangi adik-adiknya namun juga hobi travelling. Btw kakak saya ini juga hebat dalam memburu tiket pesawat murah ke luar negeri dan menyusun itinerary. Kebetulan kakak saya ini termasuk orang yang perfeksionis jadi kalo wisata sama dia semua serba terjamin karena ia telah menyiapkan segalanya secara rapi.

Untuk-untuk teman-teman backpacking yang paling utama adalah Gama Ufiz (sahabat saya di FHUI jebolan SMANSA Bekasi) dan trio cewek FE UI tangguh :p jebolan SMANSA Bogor, yakni Belle, Ira, dan Anis. Keempat orang ini sangat konkret deh dalam hal travelling.  Untuk Gama, ia hebat dalam menyusun itinerary serta sangat berani (atau nekat? atau malah pelit? hehe). Cuma ya itu kelemahannya ia kadang terlalu taat sama itinerary yang ia buat khususnya dalam soal harga. Jadi jika ia menemukan harga suatu produk atau jasa di lapangan lebih mahal daripada yang ia anggarkan, maka ia akan berusaha agak “setengah mati-matian” untuk tidak melanggar “kitab anggaran” yang ia telah buat.  Oiya ia sempat mendirikan komunitas yang bernama UI Backpacker Community dengan ia sebagai ketuanya. Komunitas yang ia dirikan ini kalau tidak salah telah mengadakan dua kali trip, pertama ke Pangandaran dan kedua ke Semarang-Jogja-Solo. Riwayat perjalanan saya sama Gama sendiri baru sekali, yakni ketika ke Vietnam pada Januari 2011 lalu. Beberapa waktu yang lalu ia mengajak saya ke Pulau Komodo, namun karena keterbatasan finansial serta berbenturan dengan rencana perjalanan saya ke Dieng dan Nusakambangan, maka saya memilih tidak ikut.. Tapi insya Allah pada September ini saya bersama Gama akan kembali bertualang ke luar negeri dengan pergi ke Singapura dan Malaysia. 

Untuk trio FEUI dari SMANSA Bogor ini, yang paling getol buat jalan-jalan adalah Ira dan Belle disusul Anis. Tapi karena Belle lulus 3,5 tahun dan sudah bekerja di Kantor Akuntan Publik yang jadwalnya ketat tersebut, maka ia pun untuk sementara harus menghentikan hobi travelnya tersebut. Berjalan sama mereka tuh asik banget udah gitu mereka juga baik dalam masalah duit (lho??). Pokoknya mereka ringan tangan dalam membantu rekan sesama backpacker mereka. Pengalaman saya sama mereka juga baru sekali, yakni ketika kami menjelajah Malang, Bromo, Surabaya, dan Suramadu pada Januari 2010. Ketika itu selain mereka bertiga, kami juga ditemani oleh adik anis yang bernama Ilham, lalu Oma yang merupakan teman seangkatan saya di FHUI yang juga teman baik trio FEUI ini ketika masih di SMANSA Bogor, serta maba alias M. Arif Budiyanto yang merupakan mahasiswa teknik mesin UI sekaligus pacar Belle. Setelah perjalanan itu baik Ira, Anis, dan Belle kerap mengadakan perjalanan berikutnya. Hanya sayangnya kesibukan saya di BEM UI dan CEDS UI pada waktu itumembuat saya tidak dapat memenuhi ajakan mereka. Btw insya Allah pada hari Kamis ini saya bersama Ira dan Anis (tanpa Belle karena ia sibuk kerja) bersama teman-teman FEUI mereka (salah satunya bernama Hilmi yang merupakan teman saya di BEM UI 2010)  akan mengadakan trip ke Dieng dan Nusakambangan. Mohon doanya agar perjalanan kami semua berlangsung lancar.

Tanpa sadar sudah 900an kata yang saya ketik. Jadi cukup sampai di sini dulu perkenalan sisi lain saya sebagai seorang backpacker atau traveller (meskipun masih abal-abal). Insya Allah saya akan men-share tiap pengalaman saya selama travelling pada satu tulisan tersendiri.

Kamis, 07 Juli 2011

Midnight Self-Talk



There is an unwritten rule that guide you  to give support for those who have trouble with himself, but you can’t do that for everyone, because sometimes it could be interpreted with other meaning by the others. So the best option is do nothing if you are facing such problem.

Selasa, 21 Juni 2011

DIRGAHAYU JAKARTA YANG KE-484

DIRGAHAYU YANG KE-484 JAKARTA!!!
SEMOGA SEMAKIN MENJADI KOTA YANG MANUSIAWI BAGI SELURUH PENDUDUK DAN PENDATANG!!!!!!!!!!

Minggu, 05 Juni 2011

Mewujudkan Kemandirian Nasional Melalui Revitalisasi Industri Strategis

Tulisan ini dimuat di Harian Seputar Indonesia, edisi Minggu 5 Juni 2011

Sekaratnya kondisi finansial dari beberapa industri strategis nasional telah menyisakan ironi. Sebab industri strategis merupakan tolak punggung nasional dalam mengurangi ketergantungan akan dominasi asing khususnya di bidang yang membutuhkan teknologi tinggi. Selain itu matinya industri strategis akan menyebabkan negeri ini mengalami brain drain  dengan menghilangnya SDM kita yang berkualitas tinggi akibat hilangnya kesempatan bagi mereka untuk mengaplikasikan ilmunya di dalam negeri.

Menurunnya kiprah dari industri strategis ini bermula dari krisis keuangan yang terjadi pada tahun 1997, dimana pasca ditandatanganinya perjanjian hutang Indonesia dengan IMF, maka Indonesia diharuskan menghentikan insentif dan bantuan kepada industri strategis.[1] Kemudian hal itu ditambah dengan semakin melemahnya iktikad dari pemerintah atas pengembangan industri strategis pasca pemerintahan B.J. Habibie.
Padahal sebenarnya Indonesia memiliki potensi ekonomi yang luar biasa dimana menurut prediksi Goldman Sachs akan menjadi kekuatan perekonomian no. 7 di dunia pada tahun 2050.[2] Dengan potensi ekonomi yang dimilikinya tersebut maka Indonesia seharusnya dapat memaksimalkan dan mengoptimalisasi industri-industri strategis yang telah ada di Indonesia.

Revitalisasi itu sendiri pertama-tama dilakukan dengan pembenahan manajemen. Sudah saatnya manajemen dari BUMN khususnya di bidang industri dikelola secara profesional agar tidak terjadi mismanajemen di kemudian hari. Kemudian disusul dengan penyuntikkan dana. Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa BUMN strategis seperti PT PAL, PT DI, PT Inka dan yang lainnya terjerat hutang yang sangat besar yang membuat mereka tidak leluasa untuk berproduksi. Bila pemerintah tidak memilliki dana yang memadai maka pemerintah dapat mengajak investor baik lokal maupun asing untuk ikut serta dalam pendanaan. Namun mekanisme penanaman modal untuk industri strategis tersebut harus diatur dengan sedemikian rupa agar tidak merugikan kepentingan bangsa ini mengingat vitalnya fungsi dari industri strategis ini.

Langkah berikutnya dalam merevitalisasi industri strategis adalah dengan menyediakan pasar. Untuk PT DI dan PT PAL misalnya pemerintah dapat mewajibkan instansi pemerintah dan BUMN untuk menggunakan kapal dan pesawat buatan kedua BUMN tersebut. Untuk PT Inka bisa dilakukan dengan memerintahkan PT Kereta Api untuk menggunakan produksi dari PT Inka tersebut. Agar hasil produksi dari industri-industri strategis tersebut dapat kompetitif di pasaran, maka tak ada salahnya bila pemerintah memberikan insentif-insentif kepada industri strategis tersebut, juga rajin mempromosikan produk dalam negeri tersebut dalam pameran atau lawatan ke negara lain.

Revitalisasi atas industri strategis tersebut mutlak harus dilakukan karena industri strategis merupakan muara dari implementasi atas penguasaan IPTEK. Akan sangat disayangkan jika ribuan putra-putri terbaik bangsa ini terpaksa harus berkarya di negeri orang akibat mereka tidak memiliki tempat untuk berkarya di negeri ini khususnya di bidang IPTEK bila industri strategis tersebut mengalami kematian. Pasang surut dari industri strategis itu sendiri dapat berimbas bagi kemandirian nasional, karena selama ini kita kerap bergantung pada asing di sektor-sektor yang membutuhkan penguasaan IPTEK tingkat lanjut. Tentunya kita semua akan lebih bangga jika militer kita menggunakan tank buatan PT Pindad lalu maskapai penerbangan kita menggunakan pesawat buatan PT DI. Semua hanya dapat terwujud jika industri strategis kita bangkit kembali.



[1] B.J. Habibie, Habibie dan Ainun, (Jakarta:THC Mandiri, 2010), hal. 192-193.
[2] Laporan studi Goldman Sachs yang dapat diakses di http://www2.goldmansachs.com/ideas/brics/book/BRIC-Full.pdf

Jumat, 03 Juni 2011

Masa Depan Bangsa Bergantung Pada Investasi Pendidikan Masa Kini

Catatan: Tulisan ini dimuat dalam rubrik opini publik Media Indonesia

Proses liberalisasi pendidikan nasional yang secara perlahan menggerus peran negara atas penyelenggaraan pendidikan di tanah air, sedikit banyak berperan atas meningkatnya biaya pendidikan yang terjadi di berbagai institusi pendidikan di tanah air. Ironisnya proses liberalisasi tersebut telah berlangsung sedemikian derasnya hingga bahkan telah menjadi bidang usaha yang dapat dimasuki oleh investor asing. Hal ini menandakan bahwa sekarang kita telah memasuki era dimana institusi pendidikan mulai bertransformasi menjadi entitas usaha yang berorientasi pada keuntungan.

Sebagai public goods, sudah selayaknya upaya-upaya privatisasi atas pendidikan dihentikan. Baik pemerintah sebagai pembuat kebijakan maupun DPR sebagai pembuat undang-undang seharusnya sadar bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk mendapatkan akses atas pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi. Segala bentuk kebijakan maupun regulasi yang dapat membatasi akses masyarakat untuk menggapai pendidikan harus dievaluasi kembali.

Pada dasarnya bila anggota masyarakat gagal mengakses pendidikan yang layak baginya demi meningkatkan kapasitas dirinya maka hal ini dapat berimbas buruk bagi bangsa ini. Sebab bagaimanapun juga salah satu syarat untuk mengangkat negeri ini agar dapat setara dengan bangsa lainnya adalah dengan memanfaatkan kaum terpelajar dan tercerdaskan yang dimiliki oleh bangsanya.  Dengan tidak terjangkaunya biaya pendidikan maka negeri ini berpotensi kehilangan calon pemimpin masa depan karena mereka gagal memiliki kapasitas yang diperlukan untuk dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa ini akibat gagalnya mereka untuk dapat menikmati pendidikan yang layak.

Sementara itu bagi mereka yang mampu mengakses pendidikan yang berbiaya tinggi, maka bukan tidak mungkin jika selanjutnya sebagian besar dari golongan yang mampu membayar biaya pendidikan yang sedemikin tingginya itu menjadi berpola pikir pragmatis. Sebab dengan investasi besar yang mereka keluarkan, maka mereka kemudian akan berpikir untuk berusaha mendapatkan apa yang telah mereka investasikan tersebut ketika lulus nanti.

Jadi besarnya biaya pendidikan secara keseluruhan akan berimbas bagi semua golongan mulai dari golongan bawah sampai golongan atas. Sebagian dari golongan menengah ke bawah akan sulit mengakses pendidikan. Sementara sebagian dari golongan menengah ke atas selepas lulus nanti akan lebih memikirkan bagaimana mereka dapat mengembalikan investasi yang telah mereka keluarkan dibandingkan berbakti kepada bangsa oleh karena mereka merasa negara tidak memberikan apa-apa kepada mereka.

Meminjam konsep pendidikan menurut pedagogis terkemuka, yakni Paolo Freire bahwa pendidikan merupakan alat untuk membebaskan kaum tertindas dari ketertindasannya melalui hadirnya kesadaran kritis. Maka telah selayaknya para pemimpin bangsa ini mengevaluasi kembali segala kebijakan yang menyebabkan mahalnya biaya pendidikan dewasa ini. Sebab jika tidak, maka bisa jadi putra-putri bangsa yang dihasilkan oleh sistem pendidikan ini akan kelak menjadi penindas sesamanya dibandingkan menjadi elevator bagi majunya bangsa ini.

Oleh karena itu tidak ada salahnya negara menginvestasikan tidak hanya anggaran yang besar melalui APBN bagi pendidikan, namun juga pemikiran-pemikiran yang berujung pada penetapan kebijakan yang dapat membawa perbaikan dari struktur pendidikan nasional saat ini. Bagaimanapun juaga pendidikan merupakan salah satu instrumen investasi bagi masa depan bangsa. Jika negara berani berinvestasi besar di sektor ini, maka kelak suatu saat nanti putra-putri hasil penyelenggaraan pendidikan di masa kini akan menahkodai bangsa ini ke depan pintu gerbang kejayaan.

Rabu, 01 Juni 2011

Pemuda Inovatif Sebagai Katalisator dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Nasional

Catatan: Tulisan ini membuat saya masuk ke dalam finalis Blogging Competition yang diadakan CompFest 2011,, Alhamdulillah walau akhirnya ga menang, tapi saya menjadi semangat ngeblog :)




“Berikan aku seratus orang tua, maka akan kupindahkan Mahameru. Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka akan aku guncangkan dunia.”
-Soekarno-

Pendahuluan
Saat ini Indonesia tengah  digadang sebagai salah satu calon kekuatan baru perekonomian di masa depan dimana menurut prediksi salah satu lembaga keuangan global, yakni Goldman Sachs, Indonesia akan menjadi negara dengan tingkat perekonomian ketujuh di dunia pada tahun 2050. Ramalan  tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya eksistensi Indonesia telah diperhitungkan secara global. Namun sayangnya realita saat ini menunjukkan fakta-fakta yang miris. Dalam headline Kompas edisi 23 Mei 2011 diangkat isu mengenai dominannya asing pada sektor-sektor strategis.  Pada sektor pertambangan dominasi asing mencapai 75%. Kemudian di sektor perbankan kepemilikan asing telah menembus 50%.  Lalu lebih dari setengah perusahaan telekomunikasi dikuasai asing. Kemudian dari perkebunan kelapa sawit yang menjadi primadona sektor perkebunan di dunia saat ini, pengelolaan lahan oleh asing telah menembus lahan seluas ±400.000 hektare.

Fakta-fakta yang dibeberkan oleh Harian Kompas tersebut,  tak pelak mengindikasikan bahwa bangsa ini masih belum benar-benar mandiri. Proses liberalisasi atas berbagai sektor krusial yang merupakan imbas dari keikutsertaan Indonesia pada World Trade Organization (WTO) beserta kesepakatan-kesepakatan lain termasuk perjanjian hutang Indonesia dengan International Monetary Fund (IMF) yang terjadi ketika krisis moneter berlangsung satu dekade lalu mulai berdampak secara dramatis akhir-akhir ini. Ironisnya kenyataan tersebut semakin diperberat dengan peranan pemerintah dan legislatif Indonesia yang seolah bermain mata dengan membuat regulasi-regulasi yang mempermudah dominasi asing di Indonesia. Ditambah lagi dengan fakta bahwa penegakan hukum di negara ini seakan-akan mandul dalam upaya memberantas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang telah menjangkiti budaya sebagian masyarakat Indonesia secara kronis.

Lalu haruskah kita sebagai pemuda pesimis? Jika anda bertanya kepada saya, maka saya akan menjawab tidak. Jika para pemuda Indonesia telah bersikap demikian, maka sebuah mimpi besar tentang suatu negeri bernama Indonesia yang setara bahkan unggul dari bangsa lainnya di masa depan akan pudar. Padahal masa depan Indonesia di masa mendatang akan dibebankan pada para pemuda yang hidup di masa kini. Oleh karena itu api optimisme yang didukung dengan kerja keras harus senantiasa dijaga agar kita para pemuda dapat melanjutkan tongkat estafet dari generasi pendahulu kita dengan baik.

Tantangan-Tantangan dalam Mewujudkan Kemandirian Nasional
Di dalam bukunya yang berjudul Selamatkan Indonesia, Amien Rais menyampaikan bahwa salah satu penghambat terbesar dari upaya bangsa ini untuk dapat mandiri adalah karena banyaknya elite bangsa kita yang bermental inlander. Para elite Indonesia yang bermental inlander ini memiliki mentalitas layaknya seorang kuli yang tunduk pada tuannya dimana tuan dalam konteks ini adalah pihak asing yang berkepentingan untuk memanfaatkan potensi Indonesia. Celakanya hal ini didukung oleh para sebagian kaum intelektual kita yang bermental abdi penguasa. Tidak heran kekayaan alam kita sebagian besar dikelola asing. Situasi ini memberikan tantangan yang berat bagi negeri ini dalam upaya mewujudkan kemandirian bangsa.

Padahal dengan kekayaan alam yang tersebar di seluruh penjuru tanah air serta didukung dengan jumlah populasi penduduk yang telah menembus lebih dari 230 juta orang, negeri ini memiliki potensi yang begitu besar untuk tidak hanya sekedar menjadi bangsa yang mandiri, namun juga menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa lainnya. Tetapi oleh karena ulah segelintir orang serta masih bersemayamnya mentalitas negatif yang kontraproduktif membuat negeri ini masih tertahan sebagai negara berkembang.

Menghasilkan Pemuda Inovatif yang Dapat Berperan Sebagai Katalisator
Pemuda merupakan pewaris perjuangan dari generasi pendahulunya di masa depan dalam rangka melanjutkan upaya merealisasikan kemandirian nasional serta mengangkat harkat dan martabat negeri ini di mata dunia. Oleh karena itu seyogianya para pemuda telah menyiapkan diri sedari dini agar dapat menyesuaikan diri dengan gegap gempita persaingan global di masa yang akan datang.

Mengingat besarnya tantangan yang dihadapi maka tidaklah cukup menyiapkan pemuda biasa dimana perlu disiapkan pemuda yang saya istilahkan sebagai pemuda inovatif. Pemuda inovatif dalam definisi saya adalah pemuda yang mampu menjawab tantangan zaman yang senantiasa berganti dari satu era ke era lainnya dengan segala inovasi dan kreatifitas yang dimilikinya. Di masa sekarang segala hal berubah dengan cepat sehingga pergeseran dari satu era yang lama ke era yang baru seakan-akan berlangsung dengan sekejap. Akibatnya bangsa yang tidak siap maka akan tersisih dari arena persaingan global. Oleh karena itulah suatu bangsa dituntut untuk dapat menyiapkan pemuda inovatif yang mampu membawa suatu bangsa untuk dapat bersaing secara kompetitif dalam kompetisi global.

Pemuda inovatif itu sendiri setidaknya harus memiliki faktor-faktor berikut ini, yakni   kepemimpinan, kompetensi, karakter, kreativitas dan koneksi.  Faktor pertama, yakni kepemimpinan atau leadership mutlak harus dimiliki oleh pemuda inovatif karena mereka dituntut untuk dapat menentukan visi ke depan dari mimpi yang mereka rancang. Dalam konteksnya dengan tulisan ini maka pemuda inovatif harus mampu menyusun visi yang dapat mendekatkan bangsa ini pada selangkah lebih dekat menuju kemandirian nasional. Faktor kepemimpinan ini tentunya harus ditunjang dengan integritas agar mereka tidak menggunakan keahlian yang mereka miliki untuk kepentingan yang picik.
                 
Faktor kedua adalah kompetensi. Seorang pemuda inovatif haruslah mampu memiliki beberapa kompetensi sebagai syarat agar ia mampu bersaing dalam kompetisi yang memiliki daya persaingan yang tinggi. Kemudian faktor ketiga adalah karakter. Tanpa adanya karakter yang tegas, maka pemuda inovatif ini dapat terseok-seok di tengah pertarungan dan selanjutnya dapat tersisih dari kompetisi.
                 
Faktor yang keempat adalah kreativitas. Kreativitas seperti halnya inovasi merupakan suatu hal yang mutlak harus dimiliki oleh pemuda inovatif. Kreativitas dari pemuda inovatif ini senantiasa dibutuhkan oleh negara yang memerlukan ide-ide segar dan brilian untuk diimplementasikan di tingkat nasional. Lalu faktor yang kelima adalah koneksi dan kemampuan dalam berkomunikasi. Faktor ini sangatlah penting karena dalam konteks hubungan global tiap bangsa-bangsa diharuskan menjalin hubungan dengan bangsa lain. Diharapkan dengan dikuasainya faktor ini maka sang pemuda inovatif ini mampu menjalin koneksi dengan pihak-pihak di dalam maupun di luar negeri agar koneksi tersebut dapat dimanfaatkan untuik kemajuan bangsa ini.
               
Semua faktor-faktor ini mutlak harus dimiliki bagi pemuda inovatif karena ini merupakan faktor-faktor yang fundamental bagi pemuda inovatif untuk dapat berperan sebagai katalisator dalam upaya mewujudkan kemandirian nasional. Oleh karena itu dengan dikuasainya faktor-faktor ini oleh pemuda inovatif maka bangsa ini dapat menaruh harapan besar pada mereka. Sebab bagaimanapun juga kualitas, produktivitas, dan daya saing SDM akan menjadi kunci keberhasilan bangsa.

Penutup
Bagi saya, Compfest2011 ini merupakan acara inovatif yang dirancang oleh para pemuda inovatif. Dimana acara ini dapat memberikan imbas yang besar bagi terwujudnya kemandirian nasional, khususnya di bidang Teknologi Informasi. Mengapa demikian? Sebab sejauh yang saya ketahui acara ini merupakan acara pertama yang bertema Teknologi Informasi yang memadukan berbagai macam ragam acara dalam satu rangkaian acara yang terintegrasi yang diselenggarakan oleh para pemuda khususnya mahasiswa. Selama ini event-event seperti ini kerap diadakan oleh para event organizer besar yang telah berpengalaman.

Di samping itu acara ini juga mengemban misi mulia, yakni sebagai wujud bakti dari para pemuda yang sedang menuntut ilmu di Fasilkom UI dalam upaya menunjukkan bahwa para pemuda Indonesia mampu menyelenggarakan acara yang bermanfaat yang menunjang upaya para pemimpin bangsa ini dalam mewujudkan kemandirian nasional, khususnya di bidang Teknologi Informasi. Oleh karena itu tak salah bila mahasiswa Fasilkom UI secara langsung telah menjadi katalisator bagi upaya mewujudkan kemandirian nasional di bidang Teknologi Informasi melalui Compfest2011.

Terakhir izinkan saya menyitir kata-kata mutiara dari Shofwan Al Banna seorang pemuda Indonesia yang telah berprestasi di tingkat internasional yang berbunyi sebagai berikut,

“Mari percaya bahwa Indonesia masa depan adalah kisah tentang kegemilangan.”


Sumber Bacaan dan Referensi
  1. Buku Selamatkan Indonesia karangan Amien Rais
  2. Buku Making Globalization Works karangan Joseph E. Stiglitz
  3. Buku Habibie dan Ainun karangan B.J. Habibie
  4. Laporan studi Goldman Sachs yang dapat diakses di http://www2.goldmansachs.com/ideas/brics/book/BRIC-Full.pdf
  5. Headline Kompas Edisi 23 Mei 2011 dapat diakses di http://epaper.kompas.com/epaperkompas.php
  6. Kata mutiara dari Shafwan Al Banna disitir dari http://www.mkamal.info/indonesia-masa-depan-adalah-kegemilangan/