Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

Momen-Momen Penting di Februari


Bodoh sekali saya tidak menulis satupun di bulan Februari kemarin meskipun Februari tersebut lebih panjang sehari dan hanya terjadi empat tahun sekali. Padahal ada banyak momen-momen penting yang baru rasakan pertama kali di bulan Februari 2012 ini, mulai dari mendaki gunung yang baru pertama kali dan itupun langsung mencapai puncak Lawu yang merupakan puncak tertinggi ketiga di Pulau Jawa dengan tinggi mencapai 3.285 m dari permukaan laut. Pendakian itu sendiri berlangsung dari tanggal 31 Januari sampai 1 Februari. Cerita mengenai petualangan saya bersama empat kawan saya yang lain sangat menarik, tapi mungkin di lain waktu akan saya ceritakan.

Kemudian pengalaman saat dijamu dengan wah ketika menjadi finalis lomba blog Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia  alias DPD RI. Walau ga menang tapi benefit yang saya dapatkan sangat luar biasa. Mulai dari menginap dua malam di hotel The Sultan yang tarifnya minimal sejuta/malam(walau saya cuma menginap semalam karena di hari pertama saya tidak bisa hadir). Lalu makan di restoran yang sangat mewah di kawasan Ancol. Mendapatkan berbagai suvenir dari DPD dan hadiah untuk finalis sebesar ....... (rahasia hehe. ) Sayangnya karena saya tidak hadir di hari pertama pula maka saya menjadi tidak mendapatkan buku biografi ketua DPD RI saat ini, yakni Irman Gusman. Btw lomba itu sendiri bertujuan untuk mengenalkan DPD yang dalam faktanya merupakan lembaga negara baru yang hadir pasca amandemen yang paling ga terkenal.  Oiya walau biaya penyelenggaraan lomba dan jamuan untuk para finalis berasal dari kantong anggota DPD RI dan bukan dari duit negara, tapi di dalam hati saya tetap ada kegundahan. Melihat mewahnya standar jamuan tersebut bagi orang kebanyakan yang juga menjadi standar lembaga-lembaga negara lainnya membuat saya bertanya-tanya bagaimana mungkin mereka bisa peka terhadap masalah yang dialami rakyatnya jika mereka selalu hidup nyaman seperti ini. Saya yakin bila entah itu DPR, DPD, Kementerian, dan lain-lain mau menurunkan standar mereka yang di atas normal tentu banyak anggaran negara yang dihemat, tapi ah sudahlah tulisan kali ini bukan untuk membahas hal tersebut.

Oiya pengalaman luar biasa lainnya di bulan Februari kemarin adalah wisuda yang berlangsung pada tanggal 18 Februari 2012 atau bertepatan dengan hari ulangtahun ke-18 adik saya yang saat ini baru semester 2 di Manajemen FEUI. Melihat dipampangnya kesuksesan wisudawan dan wisudawati lainnya baik mereka yang merupakan lulusan terbaik di fakultasnya ataupun yang berhasil lulus cumlaude di depan khalayak ramai yang menghadiri balairung saat itu membuat saya benar-benar ingin menangis menyesal karena gagal memanfaatkan momen tersebut untuk sedikit membayar hutang kasih sayang yang terus diberikan tiada hentinya oleh orang tua saya. Sejujurnya dengan raihan IP yang luar biasa di semester-semester penghujung kuliah saya membuat saya kesal terhadap kemalasan saya di semester-semester awal. Tapi bagaimana lagi sesal memang tiada guna.

Terakhir momen luar biasa di bulan Februari ini adalah merasakan pengalaman menjadi job seeker hehe. Sebenarnya saya sendiri sudah sempat ditawari kerja atau magang oleh dua LSM yang core utamanya bidang hukum walau kedua LSM tersebut memiliki ranah konsentrasi yang berbeda.  Tetapi karena saya memiliki passion untuk jadi pengusaha, maka saya ingin mencari pengalaman terlebih dahulu di tempat yang dapat memberikan bekal untuk mewujudkan passion saya tersebut. Untuk hal ini kayanya akan saya ceritakan dalam postingan berikut hehe,,, Thanks for reading, hope it won’t be useless story  hehe,,, Btw as Prof Mubyarto said (an economical expert from UGM ), better to write something which is considered as rubbish than become rubbish in your mind. So what’re you waiting for?? Keep writing and sharing guys hehe,,,

Kamis, 05 Januari 2012

Tantangan Indonesia 2012:Mempertahankan Tradisi Emas Olimpiade


*Tulisan ini dimuat di harian Seputar Indonesia edisi 5 Januari 2011            

          Euforia keberhasilan Indonesia di SEA GAME S 2011 masih terasa. Tercatat perolehan 182 emas memastikan posisi Indonesia untuk merebut supremasi tertinggi dalam ajang multievent terbesar di Asia Tenggara ini. Namun gegap gempita kemenangan tersebut harus diakhiri sebab ajang yang multi cabang terbesar sejagad raya, yakni Olimpiade 2012 yang akan berlangsung di London sudah menanti.
            Keikutsertaan Indonesia di Olimpiade 2012 sendiri menandai 60 tahun partisipasi Indonesia sejak kita mengirimkan kontingen pertama kita, yakni Soedarmodjo (atletik), Soeharko (renang) dan Thio Ging Wie (angkat besi) pada Olimpiade 1952 di Helsinki.[1]  Sekarang walaupun Indonesia telah memiliki 25 atlet yang telah lolos kualifikasi Olimpiade 2012 dari 12 cabang dan bisa bertambah lagi karena beberapa cabang masih terbuka kualifikasinya, suara-suara pesimis mengenai peluang Indonesia untuk melanjutkan tradisi emas telah menyeruak ke permukaan. Hal ini dikarenakan buruknya prestasi bulutangkis Indonesia yang merupakan tumpuan utama Indonesia dalam meraih emas sepanjang tahun ini. Tercatat hanya 2 gelar dari total 65 gelar yang diraih Indonesia dalam 13 ajang Badminton Super Series sepanjang tahun 2011.[2] Kemudian Indonesia hanya menempatkan satu atletnya dalam daftar peringkat 5 besar bulutangkis dunia melalui pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir.[3] Sementara di tunggal putri Indonesia hingga saat ini belum satupun pemain yang peringkatnya cukup untuk lolos olimpiade. Ironisnya ajang SEA GAMES yang idealnya dijadikan sebagai tempat penggemblengan atlet muda bulutangkis, justu diikuti oleh atlet-atlet senior Indonesia. Sebaliknya Thailand dan Malaysia yang memiliki atlet papan atas bulutangkis justru menjadikan momen SEA GAMES ini sebagai panggung atlet muda karena mereka memfokuskan atlet seniornya demi olimpiade 2012.
            Di cabang lain yang menjadi tumpuan Indonesia untuk mendulang medali, yakni angkat besi sejauh ini baru meraih 5 tiket ke olimpiade yang semuanya diraih oleh tim putra. Sementara tim putri masih belum mendapatkannya.[4] Salah satu penyebab masih sedikitnya atlet angkat besi yang lolos adalah karena berbenturannya waktu kualifikasi olimpiade yang berlangsung di Paris pada tanggal 4-13 November dengan SEA GAMES yang berlangsung pada tanggal 11-22 November 2011. Sayangnya dengan bonus besar yang menanti untuk para juara SEA GAMES serta tuntutan target untuk menjadi juara umum SEA GAMES, maka kualifikasi olimpiade tersebut menjadi kurang diprioritaskan .
            Ke depannya hal ini tak boleh terulang lagi. Demi kepentingan jangka panjang seharusnya KONI dan Pengurus Besar tiap cabang olahraga tegas dalam menentukan prioritas ajang yang diikuti. Kemudian demi pembinaan atlet-atlet muda mendapat alokasi terbesar untuk mengikuti ajang-ajang tingkat regional seperti SEA GAMES dan ajang nasional seperti PON. Sementara itu dengan semakin dekatnya perhelatan olimpiade 2012, maka demi melanjutkan tradisi medali terutama medali emas perlu dilakukan tindakan sebagai berikut, yakni memperbaiki sarana dan prasarana berlatih, mengaplikasikan sains olahraga untuk mengukur dan meningkatkan potensi kemampuan atlet, serta meningkatkan frekuensi pengiriman atlet untuk bertanding atau beruji coba di luar negeri. Diharapkan dengan langkah-langkah tersebut maka lagu Indonesia Raya akan berkumandang di London ketika prosesi pengalungan medali emas berlangsung.


                [1]http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/5/94/siapa_atlit_pertama_indonesia_di_olimpiade
                [2] http://en.wikipedia.org/wiki/2011_BWF_Super_Series#Results
                [3] http://www.bwfbadminton.org/page.aspx?id=14955
                [4] http://www.beritasatu.com/mobile/ekonomi/21189-angkat-besi-targetkan-satu-tiket-lagi-di-olimpiade.html

Minggu, 05 Juni 2011

Mewujudkan Kemandirian Nasional Melalui Revitalisasi Industri Strategis

Tulisan ini dimuat di Harian Seputar Indonesia, edisi Minggu 5 Juni 2011

Sekaratnya kondisi finansial dari beberapa industri strategis nasional telah menyisakan ironi. Sebab industri strategis merupakan tolak punggung nasional dalam mengurangi ketergantungan akan dominasi asing khususnya di bidang yang membutuhkan teknologi tinggi. Selain itu matinya industri strategis akan menyebabkan negeri ini mengalami brain drain  dengan menghilangnya SDM kita yang berkualitas tinggi akibat hilangnya kesempatan bagi mereka untuk mengaplikasikan ilmunya di dalam negeri.

Menurunnya kiprah dari industri strategis ini bermula dari krisis keuangan yang terjadi pada tahun 1997, dimana pasca ditandatanganinya perjanjian hutang Indonesia dengan IMF, maka Indonesia diharuskan menghentikan insentif dan bantuan kepada industri strategis.[1] Kemudian hal itu ditambah dengan semakin melemahnya iktikad dari pemerintah atas pengembangan industri strategis pasca pemerintahan B.J. Habibie.
Padahal sebenarnya Indonesia memiliki potensi ekonomi yang luar biasa dimana menurut prediksi Goldman Sachs akan menjadi kekuatan perekonomian no. 7 di dunia pada tahun 2050.[2] Dengan potensi ekonomi yang dimilikinya tersebut maka Indonesia seharusnya dapat memaksimalkan dan mengoptimalisasi industri-industri strategis yang telah ada di Indonesia.

Revitalisasi itu sendiri pertama-tama dilakukan dengan pembenahan manajemen. Sudah saatnya manajemen dari BUMN khususnya di bidang industri dikelola secara profesional agar tidak terjadi mismanajemen di kemudian hari. Kemudian disusul dengan penyuntikkan dana. Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa BUMN strategis seperti PT PAL, PT DI, PT Inka dan yang lainnya terjerat hutang yang sangat besar yang membuat mereka tidak leluasa untuk berproduksi. Bila pemerintah tidak memilliki dana yang memadai maka pemerintah dapat mengajak investor baik lokal maupun asing untuk ikut serta dalam pendanaan. Namun mekanisme penanaman modal untuk industri strategis tersebut harus diatur dengan sedemikian rupa agar tidak merugikan kepentingan bangsa ini mengingat vitalnya fungsi dari industri strategis ini.

Langkah berikutnya dalam merevitalisasi industri strategis adalah dengan menyediakan pasar. Untuk PT DI dan PT PAL misalnya pemerintah dapat mewajibkan instansi pemerintah dan BUMN untuk menggunakan kapal dan pesawat buatan kedua BUMN tersebut. Untuk PT Inka bisa dilakukan dengan memerintahkan PT Kereta Api untuk menggunakan produksi dari PT Inka tersebut. Agar hasil produksi dari industri-industri strategis tersebut dapat kompetitif di pasaran, maka tak ada salahnya bila pemerintah memberikan insentif-insentif kepada industri strategis tersebut, juga rajin mempromosikan produk dalam negeri tersebut dalam pameran atau lawatan ke negara lain.

Revitalisasi atas industri strategis tersebut mutlak harus dilakukan karena industri strategis merupakan muara dari implementasi atas penguasaan IPTEK. Akan sangat disayangkan jika ribuan putra-putri terbaik bangsa ini terpaksa harus berkarya di negeri orang akibat mereka tidak memiliki tempat untuk berkarya di negeri ini khususnya di bidang IPTEK bila industri strategis tersebut mengalami kematian. Pasang surut dari industri strategis itu sendiri dapat berimbas bagi kemandirian nasional, karena selama ini kita kerap bergantung pada asing di sektor-sektor yang membutuhkan penguasaan IPTEK tingkat lanjut. Tentunya kita semua akan lebih bangga jika militer kita menggunakan tank buatan PT Pindad lalu maskapai penerbangan kita menggunakan pesawat buatan PT DI. Semua hanya dapat terwujud jika industri strategis kita bangkit kembali.



[1] B.J. Habibie, Habibie dan Ainun, (Jakarta:THC Mandiri, 2010), hal. 192-193.
[2] Laporan studi Goldman Sachs yang dapat diakses di http://www2.goldmansachs.com/ideas/brics/book/BRIC-Full.pdf

Jumat, 03 Juni 2011

Masa Depan Bangsa Bergantung Pada Investasi Pendidikan Masa Kini

Catatan: Tulisan ini dimuat dalam rubrik opini publik Media Indonesia

Proses liberalisasi pendidikan nasional yang secara perlahan menggerus peran negara atas penyelenggaraan pendidikan di tanah air, sedikit banyak berperan atas meningkatnya biaya pendidikan yang terjadi di berbagai institusi pendidikan di tanah air. Ironisnya proses liberalisasi tersebut telah berlangsung sedemikian derasnya hingga bahkan telah menjadi bidang usaha yang dapat dimasuki oleh investor asing. Hal ini menandakan bahwa sekarang kita telah memasuki era dimana institusi pendidikan mulai bertransformasi menjadi entitas usaha yang berorientasi pada keuntungan.

Sebagai public goods, sudah selayaknya upaya-upaya privatisasi atas pendidikan dihentikan. Baik pemerintah sebagai pembuat kebijakan maupun DPR sebagai pembuat undang-undang seharusnya sadar bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk mendapatkan akses atas pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi. Segala bentuk kebijakan maupun regulasi yang dapat membatasi akses masyarakat untuk menggapai pendidikan harus dievaluasi kembali.

Pada dasarnya bila anggota masyarakat gagal mengakses pendidikan yang layak baginya demi meningkatkan kapasitas dirinya maka hal ini dapat berimbas buruk bagi bangsa ini. Sebab bagaimanapun juga salah satu syarat untuk mengangkat negeri ini agar dapat setara dengan bangsa lainnya adalah dengan memanfaatkan kaum terpelajar dan tercerdaskan yang dimiliki oleh bangsanya.  Dengan tidak terjangkaunya biaya pendidikan maka negeri ini berpotensi kehilangan calon pemimpin masa depan karena mereka gagal memiliki kapasitas yang diperlukan untuk dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa ini akibat gagalnya mereka untuk dapat menikmati pendidikan yang layak.

Sementara itu bagi mereka yang mampu mengakses pendidikan yang berbiaya tinggi, maka bukan tidak mungkin jika selanjutnya sebagian besar dari golongan yang mampu membayar biaya pendidikan yang sedemikin tingginya itu menjadi berpola pikir pragmatis. Sebab dengan investasi besar yang mereka keluarkan, maka mereka kemudian akan berpikir untuk berusaha mendapatkan apa yang telah mereka investasikan tersebut ketika lulus nanti.

Jadi besarnya biaya pendidikan secara keseluruhan akan berimbas bagi semua golongan mulai dari golongan bawah sampai golongan atas. Sebagian dari golongan menengah ke bawah akan sulit mengakses pendidikan. Sementara sebagian dari golongan menengah ke atas selepas lulus nanti akan lebih memikirkan bagaimana mereka dapat mengembalikan investasi yang telah mereka keluarkan dibandingkan berbakti kepada bangsa oleh karena mereka merasa negara tidak memberikan apa-apa kepada mereka.

Meminjam konsep pendidikan menurut pedagogis terkemuka, yakni Paolo Freire bahwa pendidikan merupakan alat untuk membebaskan kaum tertindas dari ketertindasannya melalui hadirnya kesadaran kritis. Maka telah selayaknya para pemimpin bangsa ini mengevaluasi kembali segala kebijakan yang menyebabkan mahalnya biaya pendidikan dewasa ini. Sebab jika tidak, maka bisa jadi putra-putri bangsa yang dihasilkan oleh sistem pendidikan ini akan kelak menjadi penindas sesamanya dibandingkan menjadi elevator bagi majunya bangsa ini.

Oleh karena itu tidak ada salahnya negara menginvestasikan tidak hanya anggaran yang besar melalui APBN bagi pendidikan, namun juga pemikiran-pemikiran yang berujung pada penetapan kebijakan yang dapat membawa perbaikan dari struktur pendidikan nasional saat ini. Bagaimanapun juaga pendidikan merupakan salah satu instrumen investasi bagi masa depan bangsa. Jika negara berani berinvestasi besar di sektor ini, maka kelak suatu saat nanti putra-putri hasil penyelenggaraan pendidikan di masa kini akan menahkodai bangsa ini ke depan pintu gerbang kejayaan.

Rabu, 01 Juni 2011

Pemuda Inovatif Sebagai Katalisator dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Nasional

Catatan: Tulisan ini membuat saya masuk ke dalam finalis Blogging Competition yang diadakan CompFest 2011,, Alhamdulillah walau akhirnya ga menang, tapi saya menjadi semangat ngeblog :)




“Berikan aku seratus orang tua, maka akan kupindahkan Mahameru. Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka akan aku guncangkan dunia.”
-Soekarno-

Pendahuluan
Saat ini Indonesia tengah  digadang sebagai salah satu calon kekuatan baru perekonomian di masa depan dimana menurut prediksi salah satu lembaga keuangan global, yakni Goldman Sachs, Indonesia akan menjadi negara dengan tingkat perekonomian ketujuh di dunia pada tahun 2050. Ramalan  tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya eksistensi Indonesia telah diperhitungkan secara global. Namun sayangnya realita saat ini menunjukkan fakta-fakta yang miris. Dalam headline Kompas edisi 23 Mei 2011 diangkat isu mengenai dominannya asing pada sektor-sektor strategis.  Pada sektor pertambangan dominasi asing mencapai 75%. Kemudian di sektor perbankan kepemilikan asing telah menembus 50%.  Lalu lebih dari setengah perusahaan telekomunikasi dikuasai asing. Kemudian dari perkebunan kelapa sawit yang menjadi primadona sektor perkebunan di dunia saat ini, pengelolaan lahan oleh asing telah menembus lahan seluas ±400.000 hektare.

Fakta-fakta yang dibeberkan oleh Harian Kompas tersebut,  tak pelak mengindikasikan bahwa bangsa ini masih belum benar-benar mandiri. Proses liberalisasi atas berbagai sektor krusial yang merupakan imbas dari keikutsertaan Indonesia pada World Trade Organization (WTO) beserta kesepakatan-kesepakatan lain termasuk perjanjian hutang Indonesia dengan International Monetary Fund (IMF) yang terjadi ketika krisis moneter berlangsung satu dekade lalu mulai berdampak secara dramatis akhir-akhir ini. Ironisnya kenyataan tersebut semakin diperberat dengan peranan pemerintah dan legislatif Indonesia yang seolah bermain mata dengan membuat regulasi-regulasi yang mempermudah dominasi asing di Indonesia. Ditambah lagi dengan fakta bahwa penegakan hukum di negara ini seakan-akan mandul dalam upaya memberantas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang telah menjangkiti budaya sebagian masyarakat Indonesia secara kronis.

Lalu haruskah kita sebagai pemuda pesimis? Jika anda bertanya kepada saya, maka saya akan menjawab tidak. Jika para pemuda Indonesia telah bersikap demikian, maka sebuah mimpi besar tentang suatu negeri bernama Indonesia yang setara bahkan unggul dari bangsa lainnya di masa depan akan pudar. Padahal masa depan Indonesia di masa mendatang akan dibebankan pada para pemuda yang hidup di masa kini. Oleh karena itu api optimisme yang didukung dengan kerja keras harus senantiasa dijaga agar kita para pemuda dapat melanjutkan tongkat estafet dari generasi pendahulu kita dengan baik.

Tantangan-Tantangan dalam Mewujudkan Kemandirian Nasional
Di dalam bukunya yang berjudul Selamatkan Indonesia, Amien Rais menyampaikan bahwa salah satu penghambat terbesar dari upaya bangsa ini untuk dapat mandiri adalah karena banyaknya elite bangsa kita yang bermental inlander. Para elite Indonesia yang bermental inlander ini memiliki mentalitas layaknya seorang kuli yang tunduk pada tuannya dimana tuan dalam konteks ini adalah pihak asing yang berkepentingan untuk memanfaatkan potensi Indonesia. Celakanya hal ini didukung oleh para sebagian kaum intelektual kita yang bermental abdi penguasa. Tidak heran kekayaan alam kita sebagian besar dikelola asing. Situasi ini memberikan tantangan yang berat bagi negeri ini dalam upaya mewujudkan kemandirian bangsa.

Padahal dengan kekayaan alam yang tersebar di seluruh penjuru tanah air serta didukung dengan jumlah populasi penduduk yang telah menembus lebih dari 230 juta orang, negeri ini memiliki potensi yang begitu besar untuk tidak hanya sekedar menjadi bangsa yang mandiri, namun juga menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa lainnya. Tetapi oleh karena ulah segelintir orang serta masih bersemayamnya mentalitas negatif yang kontraproduktif membuat negeri ini masih tertahan sebagai negara berkembang.

Menghasilkan Pemuda Inovatif yang Dapat Berperan Sebagai Katalisator
Pemuda merupakan pewaris perjuangan dari generasi pendahulunya di masa depan dalam rangka melanjutkan upaya merealisasikan kemandirian nasional serta mengangkat harkat dan martabat negeri ini di mata dunia. Oleh karena itu seyogianya para pemuda telah menyiapkan diri sedari dini agar dapat menyesuaikan diri dengan gegap gempita persaingan global di masa yang akan datang.

Mengingat besarnya tantangan yang dihadapi maka tidaklah cukup menyiapkan pemuda biasa dimana perlu disiapkan pemuda yang saya istilahkan sebagai pemuda inovatif. Pemuda inovatif dalam definisi saya adalah pemuda yang mampu menjawab tantangan zaman yang senantiasa berganti dari satu era ke era lainnya dengan segala inovasi dan kreatifitas yang dimilikinya. Di masa sekarang segala hal berubah dengan cepat sehingga pergeseran dari satu era yang lama ke era yang baru seakan-akan berlangsung dengan sekejap. Akibatnya bangsa yang tidak siap maka akan tersisih dari arena persaingan global. Oleh karena itulah suatu bangsa dituntut untuk dapat menyiapkan pemuda inovatif yang mampu membawa suatu bangsa untuk dapat bersaing secara kompetitif dalam kompetisi global.

Pemuda inovatif itu sendiri setidaknya harus memiliki faktor-faktor berikut ini, yakni   kepemimpinan, kompetensi, karakter, kreativitas dan koneksi.  Faktor pertama, yakni kepemimpinan atau leadership mutlak harus dimiliki oleh pemuda inovatif karena mereka dituntut untuk dapat menentukan visi ke depan dari mimpi yang mereka rancang. Dalam konteksnya dengan tulisan ini maka pemuda inovatif harus mampu menyusun visi yang dapat mendekatkan bangsa ini pada selangkah lebih dekat menuju kemandirian nasional. Faktor kepemimpinan ini tentunya harus ditunjang dengan integritas agar mereka tidak menggunakan keahlian yang mereka miliki untuk kepentingan yang picik.
                 
Faktor kedua adalah kompetensi. Seorang pemuda inovatif haruslah mampu memiliki beberapa kompetensi sebagai syarat agar ia mampu bersaing dalam kompetisi yang memiliki daya persaingan yang tinggi. Kemudian faktor ketiga adalah karakter. Tanpa adanya karakter yang tegas, maka pemuda inovatif ini dapat terseok-seok di tengah pertarungan dan selanjutnya dapat tersisih dari kompetisi.
                 
Faktor yang keempat adalah kreativitas. Kreativitas seperti halnya inovasi merupakan suatu hal yang mutlak harus dimiliki oleh pemuda inovatif. Kreativitas dari pemuda inovatif ini senantiasa dibutuhkan oleh negara yang memerlukan ide-ide segar dan brilian untuk diimplementasikan di tingkat nasional. Lalu faktor yang kelima adalah koneksi dan kemampuan dalam berkomunikasi. Faktor ini sangatlah penting karena dalam konteks hubungan global tiap bangsa-bangsa diharuskan menjalin hubungan dengan bangsa lain. Diharapkan dengan dikuasainya faktor ini maka sang pemuda inovatif ini mampu menjalin koneksi dengan pihak-pihak di dalam maupun di luar negeri agar koneksi tersebut dapat dimanfaatkan untuik kemajuan bangsa ini.
               
Semua faktor-faktor ini mutlak harus dimiliki bagi pemuda inovatif karena ini merupakan faktor-faktor yang fundamental bagi pemuda inovatif untuk dapat berperan sebagai katalisator dalam upaya mewujudkan kemandirian nasional. Oleh karena itu dengan dikuasainya faktor-faktor ini oleh pemuda inovatif maka bangsa ini dapat menaruh harapan besar pada mereka. Sebab bagaimanapun juga kualitas, produktivitas, dan daya saing SDM akan menjadi kunci keberhasilan bangsa.

Penutup
Bagi saya, Compfest2011 ini merupakan acara inovatif yang dirancang oleh para pemuda inovatif. Dimana acara ini dapat memberikan imbas yang besar bagi terwujudnya kemandirian nasional, khususnya di bidang Teknologi Informasi. Mengapa demikian? Sebab sejauh yang saya ketahui acara ini merupakan acara pertama yang bertema Teknologi Informasi yang memadukan berbagai macam ragam acara dalam satu rangkaian acara yang terintegrasi yang diselenggarakan oleh para pemuda khususnya mahasiswa. Selama ini event-event seperti ini kerap diadakan oleh para event organizer besar yang telah berpengalaman.

Di samping itu acara ini juga mengemban misi mulia, yakni sebagai wujud bakti dari para pemuda yang sedang menuntut ilmu di Fasilkom UI dalam upaya menunjukkan bahwa para pemuda Indonesia mampu menyelenggarakan acara yang bermanfaat yang menunjang upaya para pemimpin bangsa ini dalam mewujudkan kemandirian nasional, khususnya di bidang Teknologi Informasi. Oleh karena itu tak salah bila mahasiswa Fasilkom UI secara langsung telah menjadi katalisator bagi upaya mewujudkan kemandirian nasional di bidang Teknologi Informasi melalui Compfest2011.

Terakhir izinkan saya menyitir kata-kata mutiara dari Shofwan Al Banna seorang pemuda Indonesia yang telah berprestasi di tingkat internasional yang berbunyi sebagai berikut,

“Mari percaya bahwa Indonesia masa depan adalah kisah tentang kegemilangan.”


Sumber Bacaan dan Referensi
  1. Buku Selamatkan Indonesia karangan Amien Rais
  2. Buku Making Globalization Works karangan Joseph E. Stiglitz
  3. Buku Habibie dan Ainun karangan B.J. Habibie
  4. Laporan studi Goldman Sachs yang dapat diakses di http://www2.goldmansachs.com/ideas/brics/book/BRIC-Full.pdf
  5. Headline Kompas Edisi 23 Mei 2011 dapat diakses di http://epaper.kompas.com/epaperkompas.php
  6. Kata mutiara dari Shafwan Al Banna disitir dari http://www.mkamal.info/indonesia-masa-depan-adalah-kegemilangan/

Minggu, 27 Februari 2011

Langkah-Langkah Strategis untuk Meminimalisasi Hadirnya Kekerasan di Masyarakat

Tulisan ini dimuat di Seputar Indonesia edisi 25 Februari 2011

Mantan Presiden Amerika Serikat, yakni Abraham Lincoln pernah berujar, “A nation divided against itself, cannot stand” yang bermakna bahwa nasib suatu negara akan hancur jika terus dilanda perpecahan dari dalam. Begitu pula dengan apa yang dialami Indonesia saat ini yang tengah marak dilanda konflik horizontal sehingga apabila tidak ada penanganan lebih lanjut maka bukan tidak mungkin tanda tanya besar akan menggelayuti masa depan bangsa ini.

Secara telanjang bisa kita saksikan di media-media kekerasan-kekerasan yang terjadi saban hari yang tidak jarang bermuara pada terjadinya konflik yang lebih besar menjadi santapan empuk masyarakat. Tentunya kita tidak bisa membiarkan kondisi ini terus berlarut hingga menjatuhkan negara ini ke dalam hiruk-pikuk anarki.

Oleh karena itu perlu diterapkan langkah-langkah strategis untuk meminimalisasi potensi hadirnya kekerasan di masyarakat. Langkah yang pertama dan yang paling penting adalah membenahi dan memupuk modal sosial di tengah masyarakat dengan cara membangun kesepahaman di tengah perbedaan. Fukuyama dalam bukunya Guncangan Besar menyebutkan bahwa modal sosial memungkinkan berbagai kelompok di dalam masyarakat yang kompleks untuk bergabung bersama dalam memperjuangkan kepentingan masing-masing yang mungkin diabaikan oleh negara. Jadi dengan adanya kesatuan gerak justru kepentingan yang berbeda-beda dari masing-masing kelompok lebih efektif untuk diperjuangkan dibanding bila berjuang sendirian atau malah dengan memaksakan kehendak dengan kekerasan atas kelompok lain.

Langkah yang berikutnya adalah mengoptimalisasi peran negara yang dikejawantahkan melalui aparat-aparatnya. Dengan mendasarkan pada teori perjanjian sosial milik J.J. Rosseau maka negara berkewajiban untuk melindungi masyarakat yang telah menyepakati untuk menyerahkan kedaulatan pada negara untuk melindungi kepentingan mereka. Dalam prakteknya negara seakan tidak berdaya menyelesaikan kekerasan-kekerasan yang terjadi di masyarakat. Di samping itu ketidakmampuan untuk mendeteksi potensi-potensi timbulnya kekerasan menyebabkan sulit untuk dilakukan tindakan preventif sebelum tindak kekerasan itu muncul di tengah masyarakat. Akibatnya masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap negara khususnya kepada aparaturnya selaku pelaksana di lapangan. Jadi negara harus berbenah diri karena merekalah garda terdepan dalam upaya melindungi warganya sendiri.

Lalu langkah selanjutnya adalah menghimbau media untuk lebih selektif dalam menyajikan berita. Tanpa disadari niat media yang berusaha menghadirkan berita yang sekomprehensif mungkin bahkan hingga menayangkan tayangan-tayangan kekerasan yang vulgar berdampak buruk bagi sebagian anggota masyarakat. Sebab tingkat kecerdasan anggota masyarakat dalam memilah informasi yang baik maupun yang buruk tidak sama. Akibatnya secara tidak sadar mereka yang kurang mampu menyeleksi kualitas dari suatu informasi yang disebarkan menjadi terdorong untuk mengimitasi kejadian-kejadian yang mereka lihat di media khususnya yang terkait kekerasan karena mereka menganggap sajian kekerasan tersebut sebagai hal yang lumrah. Jadi tanpa mengurangi kemerdekaan pers seharusnya ada batasan-batasan dalam penayangan suatu berita dimana untuk suatu berita yang mengandung kekerasan cukuplah diberitakan sesuai porsinya tanpa harus dipaparkan hingga serinci mungkin.

Ketiga langkah yang telah dipaparkan ini merupakan saripati dari peran-peran utama yang harus dimainkan oleh masyarakat, negara, dan media dalam upaya mencegah timbulnya kekerasan dimana dalam prakteknya dibutuhkan sinergisitas satu sama lain untuk saling menopang. Dengan dilaksanakannya ketiga langkah strategis ini secara konkret dan tepat sasaran maka kekhawatiran akan terjadinya failed State dapat dienyahkan.

Tantangan 2011:Mengembalikan Supremasi Olahraga Nasional

Tulisan ini dimuat di seputar indonesia edisi 15 Januari 2011

Euforia atas keberhasilan kontingen merah putih meraih 4 emas pada Asian Games 2010 lalu serta keberhasilan tim sepakbola merah putih melaju ke final piala AFF seharusnya dapat dijadikan pemicu bagi dunia olahraga nasional untuk mengembalikan supremasi kita. Dengan ditetapkannya Indonesia sebagai penyelenggara SEA Games 2011 maka kita jadikan tahun ini sebagai momentum atas kebangkitan olahraga nasional yang diawali dengan menjadi juara umum SEA Games 2011.

Di samping dua prestasi besar tersebut, sebenarnya bila dievaluasi lebih komprehensif maka dapat dikatakan bahwa prestasi olahraga kita cenderung stagnan pada tahun ini. Bulutangkis misalnya sebagai cabang yang secara tradisional menjadi pengharum nama Indonesia pada tahun ini praktis sangat mengecewakan prestasinya karena dalam setahun ini hanya dua gelar Super Series yang bisa diraih dari total 65 gelar ditambah dengan sebuah emas di Asian Games 2010.

Sedangkan pada cabang-cabang olimpik yang terukur seperti atletik, renang, dan menembak Indonesia relatif baru bisa bersaing di tingkat Asia Tenggara saja.Padahal ketiga cabang tersebut merupakan cabang yang paling banyak menyediakan medali emas dan selalu dipertandingkan pada setiap ajang multicabang. Berbeda dengan cabang perahu naga yang walaupun kita berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih 3 medali emas di Asian Games 2010, namun cabang ini bukanlah cabang yang secara tradisional pasti diselenggarakan dalam suatu ajang multicabang.

Oleh karena itulah untuk mencapai tujuan menjadi juara umum di SEA Games 2011 nanti maka segalanya harus diawali dengan mengevaluasi pembinaan yang telah dilakukan selama ini. Seperti yang kita ketahui proses pembinaan olahraga di Indonesia sangat bergantung pada kebijakan KONI dan Menpora karena mayoritas asosiasi olahraga yang menaungi pembinaan olahraga di bawahnya pada umumnya cenderung pasif menunggu komando dari atas. Padahal pengambilan kebijakan yang bersifat top down yang untuk SEA Games ini diwujudkan dalam Program Indonesia Emas (Prima) sesungguhnya agak kurang tepat karena setiap pembinaan suatu cabang olahraga memiliki karakteristik masing-masing sehingga tidak bisa dipukul rata.

Kemudian seharusnya dalam proses pembinaan tersebut dibangun secara berkelanjutan dan bertahap, jadi tidak bersifat periodik saja karena adanya suatu event besar tertentu. Lalu event-event tingkat nasional seperti PON harus dijadikan sebagai momen untuk menjadi landasan dalam mencapai prestasi tertinggi di tingkat regional, dan internasional. Jangan seperti sekarang dimana PON dijadikan alat untuk meraih popularitas dan gengsi antar provinsi yang berujung pada pemanfaatan kejayaan suatu daerah bagi kepentingan politik dari kepala daerah tersebut sehingga tujuan PON sebagai kawah candradimuka pembinaan dalam negeri tidak tercapai.

Terakhir kita tidak bisa mengabaikan pula peran gabungan antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat dalam mengembalikan supremasi olahraga nasional. Pemerintah seharusnya membuat kebijakan-kebijakan yang pro pengembangan olahraga nasional, kemudian pengusaha sebagai pemilik modal berperan dalam upaya penyokongan penyelenggaraan proses pembinaan olahraga, dan masyarakat dengan segala dayanya berperan aktif dalam mendukung proses menuju supremasi tersebut. Sekarang kita tinggal menunggu apakah kita semua dapat menjawab tantangan untuk mengembalikan supremasi olahraga nasional. Oleh karena itu kita semua tentunya berharap momen SEA Games 2011 ini akan menjadi tonggak bangkitnya kejayaan olahraga nasional yang telah lama kita nanti-nantikan.