Senin, 30 Mei 2011

Jokes I : Menyuap Satpam Demi Kelancaran Event

Copas dari fuckyeahmahasiswa

Buat teman-teman yang pernah terjun di kepanitiaan di bidang perlengkapan dan keamanan pasti terkadang suka menghadapi hal ini. Ironis ya?? Tapi itulah kenyataannya dimana gratifikasi yang memiliki intensi tertentu telah menjadi budaya negeri ini mulai dari tingkat atas sampai yang paling bawah,,,

Semoga Sukses SNMPTN-nya Kiki !!!

Hari ini sampai besok adik gw, yakni Aisyah Suci Kirana alias Kiki akan menghadapi SNMPTN tertulis. Sebelumnya ia telah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti SNMPTN Undangan, namun sayangnya masih belum rezeki adik gw untuk lolos. Nah bila sebelumnya adik gw memilih jurusan yang tinggi-tinggi pada SNMPTN Undangan, maka pada SNMPTN tertulis ini adik gw realistis dengan memilih Manajemen UI, HI Unpad, dan Manajemen IPB.

Tentunya sebagai kakaknya gw berharap adik gw bisa tembus di pilihan pertama supaya jejak gw yang dahulu keterima di Hukum UI, lalu kakak gw yang dahulu keterima di Akuntansi UI dapat dilanjutkan oleh adik gw. Oleh karena itu gw mohon doanya dari teman-teman yang mungkin ga sengaja membaca blog ini untuk ikut mendoakan supaya Allah memberikan yang terbaik bagi adik gw. Oiya gw juga ga lupa untuk memanjatkan doa buat temen-temen yang adiknya juga sedang berjuang pada SNMPTN. Semoga segala langkah yang ditempuh oleh adik teman-teman berbuah manis ya :)

Jumat, 27 Mei 2011

Pilih mana?? K2N, Magang, Nyari Duit, Pengabdian, Start Skripsi???


Gw bener-bener lagi ngalamin dilema ni, coz gw harus segera menentukan keputusan apakah ikut K2N atau ga dalam kurang dari 4 hari ini. Sebab sekali gw milih K2N maka gw harus merelakan waktu gw selama hampir 6 minggu di Surabaya (lokasi tes fisik K2N) dan lokasi penempatan K2Nnya. Masalahnya dalam waktu 6 minggu itu gw bisa melakukan beberapa hal, yakni:

1. Magang
Gw belum pernah magang ni. Awalnya gw niat magang semester 8 ini di sebuah LSM yang concern di bidang perlindungan hukum atas lingkungan hidup, tapi gagal gara-gara gw banting setir dari yang tadinya niat lulus 4,5 sesuai lifeplan jadi pengen lulus 4 tahun di pertengahan semester ini. Selain itu gw pengen mengaplikasikan ilmu hukum yang gw dapat selama di kampus di dalam dunia nyata. Hal yang mana belum pernah gw realisasikan hingga kini.

2. Start Skripsi
Start skripsi?? Ini ceritanya panjang jadi niat gw lulus 4 tahun tergagalkan gara-gara berbagai macam masalah yang mengharuskan gw harus menunda dan memulai kembali skripsi gw dari 0. Jadi jika gw ga jadi K2N maka rencananya begitu kepala PK 6 (Program Kekhususan Hukum Internasional Publik) balik ke Indonesia bulan Juni ini, maka gw akan langsung mengajukan judul baru skripsi gw biar gw bisa start lebih awal, biar bulan Oktober atau November udah kelar. Oiya kelak bagian ini akan gw ceritakan dalam satu bab tersendiri coz ceritanya agak konyol, tapi bisa jadi bahan cerita gw ke anak gw nanti kelak hehe.

3. Nyari duit
Ini salah satu pilihan paling pragmatis diantara semua opsi yang gw munculkan bila nanti gw memutuskan untuk tidak mengikuti K2N. Namun hal ini pasti gw lakukan entah sebagai prioritas utama atau hanya sebagai pendamping dari alternatif-alternatif yang gw sebutkan di sini bila gw ga K2N, sebab gw dapat tiket gratis ke Singapur untuk keberangkatan September. Kenapa gw ngotot pengen nyari duit?? Sebab lo semua yang pernah ke Singapore pasti tau GEDENYA cost yang harus dikeluarkan jika lo pengen nikmatin objek-objek wisata Singapore yang worth it. Untuk itu selain dari magang (bila jadi magang)ataupun ngajar les, gw juga bakal konkretin niat gw usaha Lele. Lahan udah ada, modal insya Allah cukup, partner kerja udah ada, tinggal studi lebih lanjut dan eksekusi. Pokoknya kalo gw ga jadi ikut K2N maka gw harus bisa ngumpulin duit sejumlah (ada deh) buat modal ke Singapore dan buat bayar kuliah gw di semester 9. Sebab gw ga mau minta bonyok lagi, coz malu karena udah telat lulus.

4. Pengabdian

Selain rutin mengurus rumbel FIM dan rumbel RBK, gw berniat untuk mencoba konkret di lingkungan sekitar rumah gw dengan memberikan bimbingan belajar cuma-cuma di masjid dekat rumah gw buat anak SD dan SMP. Gw akan memulai ini sesegera mungkin bila gw gajadi ikut K2N. Pokoknya gw ga mau hanya sekedar numpang tidur doang di lingkungan sekitar rumah gw, tapi gw juga harus memberikan hal positif di lingkungan gw.

Itulah 4 opsi yang sudah terbayang jika gw nggak jadi ikut K2N. Tapi sejujurnya gw masih berhasrat banget ikut K2N coz kesempatan untuk datang ke bagian terluar atau bagian terpencil dari negeri ini ga datang dua kali. Semoga Allah memberikan petunjuk bagi gw untuk diberikan keyakinan dalam memilih diantara semua opsi yang ada ini.

Pengen Ngerombak Blog!!!!!

Pengen banget gw ngerombak tampilan blog ini, tapi ga sempat (baca:males). Ujung-ujungnya jadi ga nulis-nulis lagi ni gara-gara ilang feeling duluan liat layout blog gw yang simpel banget.

Selasa, 15 Maret 2011

Only The Person Who Risks is Truly Free

Minggu kedua dan ketiga bulan Maret ini saya mendapat hantaman luar biasa. Berbagai target yang saya kejar meleset termasuk salah satunya adalah mimpi saya menjadi.............

Kegagalan tersebut jelas membuat saya terpukul, namun sekali lagi saya teringat pada sebuah quotes dari Leo Buscaglia yang pernah disampaikan oleh sahabat saya Budhi Darma yang berbunyi,

"The person who risks nothing, does nothing, has nothing, is nothing, and becomes nothing.
He may avoid suffering and sorrow, but he simply cannot learn, feel, change, grow or love.
Chained by his certitude, he is a slave; he has forfeited his freedom. Only the person who risks is truly free."


Yah kata-kata yang disampaikan Leo Buscaglia sangat tepat, barangsiapa yang mencoba mewujudkan suatu mimpi maka ia berpotensi untuk kecewa bilamana mimpi tersebut tidak terpenuhi. Begitu pula saya, tetapi dengan saya mencobanya maka sesungguhnya saya telah meraih kemerdekaan saya. Kemerdekaan yang tidak akan saya dapatkan jika saya terus memendam mimpi saya tersebut. Dan dengan bangga (di tengah rasa kecewa yang tidak bisa saya tutupi) saya berani mengklaim bahwa saya berhasil mengalahkan rasa takut untuk mencoba. Semoga Allah terus melimpahkan keberanian di dalam diri saya ini.

Minggu, 27 Februari 2011

Langkah-Langkah Strategis untuk Meminimalisasi Hadirnya Kekerasan di Masyarakat

Tulisan ini dimuat di Seputar Indonesia edisi 25 Februari 2011

Mantan Presiden Amerika Serikat, yakni Abraham Lincoln pernah berujar, “A nation divided against itself, cannot stand” yang bermakna bahwa nasib suatu negara akan hancur jika terus dilanda perpecahan dari dalam. Begitu pula dengan apa yang dialami Indonesia saat ini yang tengah marak dilanda konflik horizontal sehingga apabila tidak ada penanganan lebih lanjut maka bukan tidak mungkin tanda tanya besar akan menggelayuti masa depan bangsa ini.

Secara telanjang bisa kita saksikan di media-media kekerasan-kekerasan yang terjadi saban hari yang tidak jarang bermuara pada terjadinya konflik yang lebih besar menjadi santapan empuk masyarakat. Tentunya kita tidak bisa membiarkan kondisi ini terus berlarut hingga menjatuhkan negara ini ke dalam hiruk-pikuk anarki.

Oleh karena itu perlu diterapkan langkah-langkah strategis untuk meminimalisasi potensi hadirnya kekerasan di masyarakat. Langkah yang pertama dan yang paling penting adalah membenahi dan memupuk modal sosial di tengah masyarakat dengan cara membangun kesepahaman di tengah perbedaan. Fukuyama dalam bukunya Guncangan Besar menyebutkan bahwa modal sosial memungkinkan berbagai kelompok di dalam masyarakat yang kompleks untuk bergabung bersama dalam memperjuangkan kepentingan masing-masing yang mungkin diabaikan oleh negara. Jadi dengan adanya kesatuan gerak justru kepentingan yang berbeda-beda dari masing-masing kelompok lebih efektif untuk diperjuangkan dibanding bila berjuang sendirian atau malah dengan memaksakan kehendak dengan kekerasan atas kelompok lain.

Langkah yang berikutnya adalah mengoptimalisasi peran negara yang dikejawantahkan melalui aparat-aparatnya. Dengan mendasarkan pada teori perjanjian sosial milik J.J. Rosseau maka negara berkewajiban untuk melindungi masyarakat yang telah menyepakati untuk menyerahkan kedaulatan pada negara untuk melindungi kepentingan mereka. Dalam prakteknya negara seakan tidak berdaya menyelesaikan kekerasan-kekerasan yang terjadi di masyarakat. Di samping itu ketidakmampuan untuk mendeteksi potensi-potensi timbulnya kekerasan menyebabkan sulit untuk dilakukan tindakan preventif sebelum tindak kekerasan itu muncul di tengah masyarakat. Akibatnya masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap negara khususnya kepada aparaturnya selaku pelaksana di lapangan. Jadi negara harus berbenah diri karena merekalah garda terdepan dalam upaya melindungi warganya sendiri.

Lalu langkah selanjutnya adalah menghimbau media untuk lebih selektif dalam menyajikan berita. Tanpa disadari niat media yang berusaha menghadirkan berita yang sekomprehensif mungkin bahkan hingga menayangkan tayangan-tayangan kekerasan yang vulgar berdampak buruk bagi sebagian anggota masyarakat. Sebab tingkat kecerdasan anggota masyarakat dalam memilah informasi yang baik maupun yang buruk tidak sama. Akibatnya secara tidak sadar mereka yang kurang mampu menyeleksi kualitas dari suatu informasi yang disebarkan menjadi terdorong untuk mengimitasi kejadian-kejadian yang mereka lihat di media khususnya yang terkait kekerasan karena mereka menganggap sajian kekerasan tersebut sebagai hal yang lumrah. Jadi tanpa mengurangi kemerdekaan pers seharusnya ada batasan-batasan dalam penayangan suatu berita dimana untuk suatu berita yang mengandung kekerasan cukuplah diberitakan sesuai porsinya tanpa harus dipaparkan hingga serinci mungkin.

Ketiga langkah yang telah dipaparkan ini merupakan saripati dari peran-peran utama yang harus dimainkan oleh masyarakat, negara, dan media dalam upaya mencegah timbulnya kekerasan dimana dalam prakteknya dibutuhkan sinergisitas satu sama lain untuk saling menopang. Dengan dilaksanakannya ketiga langkah strategis ini secara konkret dan tepat sasaran maka kekhawatiran akan terjadinya failed State dapat dienyahkan.

Tantangan 2011:Mengembalikan Supremasi Olahraga Nasional

Tulisan ini dimuat di seputar indonesia edisi 15 Januari 2011

Euforia atas keberhasilan kontingen merah putih meraih 4 emas pada Asian Games 2010 lalu serta keberhasilan tim sepakbola merah putih melaju ke final piala AFF seharusnya dapat dijadikan pemicu bagi dunia olahraga nasional untuk mengembalikan supremasi kita. Dengan ditetapkannya Indonesia sebagai penyelenggara SEA Games 2011 maka kita jadikan tahun ini sebagai momentum atas kebangkitan olahraga nasional yang diawali dengan menjadi juara umum SEA Games 2011.

Di samping dua prestasi besar tersebut, sebenarnya bila dievaluasi lebih komprehensif maka dapat dikatakan bahwa prestasi olahraga kita cenderung stagnan pada tahun ini. Bulutangkis misalnya sebagai cabang yang secara tradisional menjadi pengharum nama Indonesia pada tahun ini praktis sangat mengecewakan prestasinya karena dalam setahun ini hanya dua gelar Super Series yang bisa diraih dari total 65 gelar ditambah dengan sebuah emas di Asian Games 2010.

Sedangkan pada cabang-cabang olimpik yang terukur seperti atletik, renang, dan menembak Indonesia relatif baru bisa bersaing di tingkat Asia Tenggara saja.Padahal ketiga cabang tersebut merupakan cabang yang paling banyak menyediakan medali emas dan selalu dipertandingkan pada setiap ajang multicabang. Berbeda dengan cabang perahu naga yang walaupun kita berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih 3 medali emas di Asian Games 2010, namun cabang ini bukanlah cabang yang secara tradisional pasti diselenggarakan dalam suatu ajang multicabang.

Oleh karena itulah untuk mencapai tujuan menjadi juara umum di SEA Games 2011 nanti maka segalanya harus diawali dengan mengevaluasi pembinaan yang telah dilakukan selama ini. Seperti yang kita ketahui proses pembinaan olahraga di Indonesia sangat bergantung pada kebijakan KONI dan Menpora karena mayoritas asosiasi olahraga yang menaungi pembinaan olahraga di bawahnya pada umumnya cenderung pasif menunggu komando dari atas. Padahal pengambilan kebijakan yang bersifat top down yang untuk SEA Games ini diwujudkan dalam Program Indonesia Emas (Prima) sesungguhnya agak kurang tepat karena setiap pembinaan suatu cabang olahraga memiliki karakteristik masing-masing sehingga tidak bisa dipukul rata.

Kemudian seharusnya dalam proses pembinaan tersebut dibangun secara berkelanjutan dan bertahap, jadi tidak bersifat periodik saja karena adanya suatu event besar tertentu. Lalu event-event tingkat nasional seperti PON harus dijadikan sebagai momen untuk menjadi landasan dalam mencapai prestasi tertinggi di tingkat regional, dan internasional. Jangan seperti sekarang dimana PON dijadikan alat untuk meraih popularitas dan gengsi antar provinsi yang berujung pada pemanfaatan kejayaan suatu daerah bagi kepentingan politik dari kepala daerah tersebut sehingga tujuan PON sebagai kawah candradimuka pembinaan dalam negeri tidak tercapai.

Terakhir kita tidak bisa mengabaikan pula peran gabungan antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat dalam mengembalikan supremasi olahraga nasional. Pemerintah seharusnya membuat kebijakan-kebijakan yang pro pengembangan olahraga nasional, kemudian pengusaha sebagai pemilik modal berperan dalam upaya penyokongan penyelenggaraan proses pembinaan olahraga, dan masyarakat dengan segala dayanya berperan aktif dalam mendukung proses menuju supremasi tersebut. Sekarang kita tinggal menunggu apakah kita semua dapat menjawab tantangan untuk mengembalikan supremasi olahraga nasional. Oleh karena itu kita semua tentunya berharap momen SEA Games 2011 ini akan menjadi tonggak bangkitnya kejayaan olahraga nasional yang telah lama kita nanti-nantikan.